Di usianya yang telah menginjak 75 tahun, Bah Iyat harus menguras sisa-sisa tenaga tuanya demi menyambung nyawa keluarga. Lansia tegar ini menggantungkan nasib sebagai pencari dan penjual kayu bakar—sebuah profesi yang telah dijalankannya sejak masa muda. Setiap hari, Bah Iyat harus berjalan hingga puluhan kilometer menyusuri hutan dan jalanan terjal sambil memikul beban kayu bakar yang amat berat di atas pundaknya. Perjuangan fisik yang teramat keras selama puluhan tahun itu bahkan meninggalkan bekas nyata berupa benjolan di pundaknya akibat terus-menerus menahan beban impitan kayu.

Penderitaan Bah Iyat di jalanan kian menyayat hati mengingat kondisi fisiknya yang makin dimakan usia. Karena kerap didera sakit-sakitan dan serangan pusing yang hebat saat melangkah, Bah Iyat sering kali hampir pingsan di tengah jalan sewaktu memikul kayu. Jika rasa pusing menyerang, beliau terpaksa terdiam menghentikan langkah sejenak di tepi jalan, mengumpulkan sisa kesadaran, sebelum akhirnya memaksa kakinya kembali melangkah. Peluh dan risiko fisik yang dipertaruhkannya pun kini makin tak sebanding; di zaman modern saat masyarakat telah beralih ke kompor gas, kayu bakar Bah Iyat amat sulit terjual. Butuh waktu hingga lima hari mengumpulkan kayu hanya untuk mengantongi uang 30 ribu rupiah yang tak pasti.

Segala beban berat itu rela dipikul Bah Iyat demi menafkahi istri tercinta, Mak Titi (70), serta anak laki-lakinya, Maman (33). Maman mengidap keterbelakangan mental dan keterbatasan intelektual sejak lahir, sehingga ia tidak memahami nilai uang dan tak sanggup bekerja mandiri seperti orang lain. Maman hanya bisa membantu sang ayah mencari rumput untuk domba. Kekecewaan Bah Iyat pun makin bertambah saat hasil jerih payahnya mengurus domba milik orang lain selama satu tahun tak kunjung dibayar, padahal ternak tersebut sudah terjual. Himpitan ekonomi yang begitu sepi membuat keluarga kecil ini terus hidup dalam bayang-bayang kelaparan.
Di balik pundaknya yang kian bungkuk dan fisik yang sering lunglai, Bah Iyat menyimpan impian bersahaja di senja usianya. Beliau sangat mendambakan memiliki domba sendiri untuk diternak di halaman rumahnya agar tak perlu lagi berjalan puluhan kilometer dan memikul beban kayu yang menyiksa fisiknya. Uluran tangan dan kepedulian kita hari ini adalah seberkas cahaya penerang untuk membebaskan Bah Iyat dari bahaya di jalanan, menyediakan modal ternak mandiri, dan menghadirkan kehidupan yang lebih layak serta bermartabat bagi keluarga kecilnya.

Mari Bentangkan Kepedulian! Sisihkan Rezeki Terbaikmu Hari Ini untuk Bantu Modal Usaha Ternak Domba Mandiri, Pemenuhan Kebutuhan Kebutuhan Hidup, dan Pengobatan Bagi Bah Iyat!
- Klik “DONASI SEKARANG” :
- Masukkan nominal donasinya :
- Pilih metode pembayaran :
- Dapatkan laporan via e-mail :

*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Hadiah Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com