Pukul 02.00 dini hari, saat kebanyakan orang masih terlelap, Abah Wahidin sudah bangun Untuk menyiapkan dagangan kopi kelilingnya.

Dengan langkah kaki yang menua, Abah berjalan menyusuri jalanan.
Dari pagi buta hingga jam 20.00 malam, Abah terus melangkah.
Setiap hari. Tanpa libur.
Harga segelas kopi Abah hanya Rp4.000.
Untungnya cuma Rp1.500 saja.

Dalam sehari, kalau ramai, penghasilan Abah Rp40.000 - 50.000 kotor.
Rp20.000 langsung habis untuk makan.
Sisanya diputar lagi buat modal jualan.
Kalau sepi…
Kadang hanya laku Rp15.000.
Dan kalau benar-benar tak ada yang beli, Abah berhutang dulu di warteg tempat ia biasa makan.

Di Usia Senjanya, Abah Justru Kehilangan Rumah
Dulu, Abah Wahidin bekerja sebagai satpam di berbagai perusahaan.
Ia membiayai anak-anaknya hingga kuliah.
Sampai mereka bisa bekerja dan hidup mapan.
Tapi ketika Abah sudah tak sanggup bekerja lagi karena usia, balasan yang ia terima justru menyayat hati.

Anak pertamanya di Garut berkata dengan kasar:
“Kaditu balik lamun teu balik ku aing tajong.”
(Jangan pulang, kalau pulang saya tendang.)
Anak keduanya di Bandung pun melarang Abah datang ke rumah:
“Pak tong sok ulin kadieu, era abina.”

Bahkan istrinya ikut mengusir:
“Kaditu balik rek naon cicing dirumah.”
Sejak 1,5 tahun lalu, Abah resmi tidak punya rumah. Miris... Abah Di usir oleh anak anaknya sendiri.
Tidur Beralaskan Sajadah, Berselimut Angin Malam
Abah kini tinggal di kios daging di Pasar.
Tidurnya hanya beralaskan sajadah, sarung dijadikan bantal.
Tanpa selimut. Tanpa kamar.

Masjid sering terkunci, Abah tak bisa bermalam di sana.
Kontrakan tak sanggup ia sewa karena jika uang dipakai untuk kontrakan, Abah tak bisa makan dan tak punya modal jualan.
Bahkan Kalau Abah tak berjualan hari itu…
Abah Gak bisa makan.
Bahaya Mengintai, Tapi Abah Tetap Bertahan
Abah pernah keserempet motor saat berjualan di dekat pengadilan.
Termos kopinya pecah. Pernah juga dipalak, hingga Abah terpaksa menunjukkan borgol bekas saat ia masih jadi satpam.

Ada pembeli yang berhutang dan tak pernah kembali.
Ada juga yang menawar kopi Abah Karena dianggap mahal dari dalam mobil padahal Abah hanya menjual Rp5.000. Abah tidak marah.
Abah hanya berkata pelan, “Gapapa, anggap sedekah.”

DI masa tuanya Abah hanya ingin, Bisa berjualan pakai sepeda, agar tak selalu berjalan kaki sejauh, Bisa beristirahat di kontrakan kecil, agar tubuh tuanya tak terus dipaksa Bisa melunasi hutang grosir untuk modal jualan.
Di usia yang seharusnya istirahat,
Abah justru masih berjuang sendirian.
Jika keluarganya gak mau anggap Abah, Hari Ini Kita Bisa Jadi Keluarga untuk Abah, Mungkin kita tak bisa mengembalikan rumah Abah. Tapi kita bisa mengembalikan rasa aman, kehangatan, dan harapan di sisa hidupnya. Mari bantu Abah Wahidin.
Karena tak seharusnya seseorang yang telah bekerja seumur hidup…menjalani hari tua sendirian di jalanan. Mari bantu Abah dengan cara :
1.Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2.Masukkan nominal terbaik yang Sahabat mampu
3.Pilih metode pembayaran yang tersedia
Jika belum bisa berdonasi, mohon bantu dengan membagikan halaman galang dana ini, agar semakin banyak tangan baik yang ikut menggenggam harapan Abah.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

*Page ini merupakan bagian dari program Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.
Ke Rekening Bank Mandiri *****5392 a/n AYO BERDAMPAK BERDAYA
Rencana Penggunaan Dana Pencairan: Dana yang terkumpul akan disalurkan dalam bentuk santunan tunai.