Bu Enah menjalani hari-harinya dengan penuh perjuangan. Di usianya yang tak lagi muda, ia masih harus merawat cucunya, Muhammad Apriansyah, 4 tahun, yang mengalami Cerebral Palsy sejak lahir dan membutuhkan terapi serta pengobatan rutin.
"Dedek yang bageur ya sama Enin… jangan rewel, kasian sama Enin. Biar Enin kayak gini juga ngurusin Dedek. Mudah-mudahan Dedek sehat, panjang umur, banyak rezekinya. Do'ain Enin juga ya… Enin sayang sama Dedek," ucap Bu Enah kepada cucunya.
Sejak ayah Apriansyah pergi meninggalkan keluarga dan tidak pernah kembali, serta ibunya harus bekerja sebagai ART di luar kota demi memenuhi kebutuhan hidup, sebagian besar pengasuhan Apriansyah pun jatuh ke tangan Bu Enah. Jarak dan keterbatasan ekonomi membuat sang ibu belum bisa mendampingi anaknya setiap hari.
Namun, di tengah tanggung jawab besar itu, Bu Enah sendiri sedang berjuang melawan sakitnya. Setelah mengalami kecelakaan motor, Bu Enah didiagnosis M16.1 Other Primary Coxarthrosis, yaitu pengapuran pada sendi panggul. Jika tidak ditangani dengan tepat dan berkala, kondisi ini bisa menyebabkan nyeri kronis, keterbatasan gerak, bahkan kecacatan.
Padahal, terlalu lama menghentikan terapi Cerebral Palsy dapat meningkatkan risiko masalah pada otot dan tulang, malnutrisi, hingga konstipasi kronis pada Apriansyah. Untuk menyambung hidup, Bu Enah hanya mengandalkan warung kecil miliknya, dengan pendapatan sekitar Rp15.000–30.000 per hari.
Bantuan dari Sahabat Kebaikan akan digunakan untuk: Membantu biaya pengobatan dan pemulihan sendi panggul Bu Enah. Membantu biaya terapi dan pengobatan rutin Apriansyah. Membantu biaya transportasi dan operasional berobat ke Jakarta. Membantu kebutuhan obat-obatan penunjang yang tidak tercover BPJS. Membantu kebutuhan lain yang paling mendesak sesuai kondisi Bu Enah dan Apriansyah.
