Di usia 80 tahun, Abah Komar masih harus memikul pisang dan jagung sambil berjalan hingga 10 kilometer setiap hari demi bertahan hidup. Perjuangan itu terasa jauh lebih berat karena Abah menderita sesak napas yang sering kambuh di tengah perjalanan. Saat napasnya tiba-tiba terasa berat, Abah hanya bisa berhenti sejenak, mengatur napas, lalu kembali melanjutkan langkah karena jika tidak berjualan, ia tidak memiliki uang untuk membeli beras.

Sejak sang istri meninggal dunia, Abah hidup seorang diri di sebuah gubuk kecil yang sudah lapuk. Dindingnya penuh celah sehingga angin dan air hujan mudah masuk. Tidak ada keluarga yang menemani hari-harinya. Malam-malam Abah sering dilalui dalam keadaan lapar sambil menahan sesak yang tak kunjung reda.

Penghasilan dari berjualan pisang dan jagung hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Jangankan berobat ke dokter, membeli obat warung pun sering kali tidak mampu. Karena keterbatasan biaya, Abah hanya bertahan dengan menahan sakit dan berharap napasnya kembali lega. Harapan Abah sebenarnya sangat sederhana. Ia ingin bisa menjalani pengobatan agar tidak lagi terus dihantui sesak napas, memiliki modal usaha agar tidak harus berkeliling membawa beban berat setiap hari, serta tinggal di rumah yang lebih layak dan aman untuk masa tuanya.
Saat ini, bantuan dari para dermawan menjadi harapan besar bagi Abah Komar agar dapat menjalani pengobatan, memiliki usaha yang lebih layak, dan menikmati masa tua tanpa harus terus mempertaruhkan kondisi kesehatannya demi mencari nafkah.
