Setiap hari, tepat pukul sembilan pagi, Nenek Watanda membawa bakul sayurnya menuju tepi jalan raya yang ramai kendaraan. Di sanalah ia menggelar dagangannya sayur-sayuran segar seperti bayam, kangkung, kentang, dan terong.
Nenek Watanda bukanlah perempuan muda lagi. Rambutnya memutih, kulitnya keriput, dan langkahnya pelan. Tapi semangatnya tak kalah dari pedagang muda. Ia duduk di bawah rimbun pepohonan dengan meja kecil dagangannya, tersenyum ramah pada siapa pun yang mampir, sambil menawar harga dengan suara lembut khas seorang nenek. Ia berjualan hingga siang hari, menunggu sinar matahari menguning dan jalanan mulai sepi. Setelah itu, Nenek kembali kerumah gubuk kecil yang sudah tidak layak jika terdapat dagangan sisa, ia akan membawanya pulang untuk hidangan makan malamnya.
Pada Saat berisitirahat nenek watanda terkadang hanya meminum sebotol Air Putih dan mengikat perutnya untuk menahan rasa lapar.
Alhamdulillah, amanah dari para donatur telah tersampaikan kepada penerima manfaat berupa santunan tunai dan bantuan sembako. Bantuan ini diterima dengan penuh rasa syukur dan diharapkan dapat meringankan kebutuhan sehari-hari.
Penerima manfaat juga menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para donatur yang telah berbagi kebaikan. Semoga setiap kebaikan yang dititipkan menjadi amal jariyah, dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT, serta membawa keberkahan bagi para donatur dan keluarga.