Di sebuah rumah panggung tua yang nyaris runtuh, tinggal keluarga kecil yang sedang berjuang melawan keadaan yang terasa terlalu berat untuk mereka tanggung sendiri.
Ujang dan istrinya, Dede, hanyalah pekerja serabutan. Penghasilan mereka tidak menentu kadang ada, sering kali tidak. Namun mereka harus merawat dua anaknya: Nadira (10) dan adiknya Azzam (2).
Sejak lahir, Azzam mengalami penyempitan saluran napas yang parah. Dokter terpaksa melubangi leher kecilnya agar ia bisa bernapas. Sejak saat itu, hidup Azzam bergantung pada alat bantu napas, alat pengencer dahak, dan mesin penyedot lendir. Tanpa alat-alat itu, napas Azzam bisa terhenti kapan saja.
Untuk membelinya, Ujang dan Dede sudah menjual hampir semua barang di rumah. Lemari, kompor, bahkan kipas angin kecil mereka. Kini hampir tidak ada lagi yang tersisa.
Melihat semua itu, Nadira yang baru kelas 3 SD memilih membantu. Setiap pagi sebelum sekolah, ia mengambil gorengan dari tetangga untuk dijual di sekolah.
“Dira jual supaya Azzam bisa beli obat…” katanya pelan.
Namun di balik keberaniannya, Nadira menyimpan satu harapan sederhana. Setiap malam ia memandangi adiknya yang tidur dengan selang di lehernya, lalu berbisik pelan,
“Azzam… kapan kamu bisa panggil aku kakak…?”
Sayangnya, kondisi Azzam masih sangat rapuh. Perawatannya tidak boleh berhenti. Alat-alatnya harus dirawat dan diganti secara berkala. Jika tidak, lendir bisa menumpuk dan membuat Azzam kesulitan bernapas.
Sementara itu, orang tuanya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijual.
Kini harapan terakhir keluarga ini adalah uluran tangan dari orang-orang baik.
Klik DONASI SEKARANG!
Karena bagi Azzam, setiap bantuan kita adalah harapan untuk tetap bernapas dan bertahan hidup.
