Abah Umid adalah seorang penjual kerupuk berusia 71 tahun yang sudah berjualan selama lebih dari 6 tahun demi menghidupi keluarganya. Kerupuk yang ia jual bukan miliknya sendiri, melainkan titipan orang lain, sehingga keuntungan yang Abah dapatkan sangat kecil, hanya sekitar Rp1.000 hingga Rp5.000 dari setiap penjualan. Meski sudah lanjut usia, Abah tetap berjualan dari pagi hingga malam, berjalan jauh dari rumahnya yang berada di tengah persawahan demi membawa pulang beras untuk dimakan bersama keluarga. Dalam sehari, Abah sering hanya mampu membeli 1 kg beras, bahkan lauk pun sering kali hanya garam atau pemberian dari tempat istrinya bekerja.
Di rumah sederhana yang jauh dari keramaian, Abah tinggal bersama istrinya yang kini berusia 80 tahun serta dua cucunya yang sudah yatim sejak kecil. Kedua cucunya terpaksa berhenti sekolah setelah lulus SD karena keterbatasan biaya. Istri Abah yang sudah renta pun masih harus bekerja sebagai buruh di sawah orang dengan upah sekitar Rp25.000 hingga Rp30.000, demi membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika Abah tidak berjualan, keluarga mereka hanya bisa mengandalkan belas kasihan orang lain.
Cobaan berat datang ketika Abah mengalami kecelakaan hingga tiga kali saat berjualan di jalan. Kecelakaan terakhir yang terjadi sembilan bulan lalu membuat Abah mengalami cedera otak, patah tulang rusuk, dan luka di bagian punggung. Setelah kejadian itu, Abah sempat tidak mengenali keluarganya selama berbulan-bulan dan hingga kini sering lupa, pusing, serta kesulitan berkonsentrasi. Karena keterbatasan biaya, Abah tidak dapat menjalani pemeriksaan lanjutan, bahkan pengobatan pun terpaksa dihentikan. Kondisinya kini tidak lagi sekuat dulu, Abah hanya mampu berjualan sesekali, itupun dengan tenaga yang sangat terbatas.
Meski tubuhnya lemah dan penghasilannya tidak menentu, Abah tetap berjuang demi keluarga. Ia ingin cucu-cucunya bisa kembali sekolah dan berharap suatu hari memiliki usaha kecil agar tidak perlu lagi berjualan di jalan dengan kondisi kesehatan yang tidak stabil. Namun tanpa bantuan, harapan itu terasa sangat jauh. Saat ini Abah membutuhkan dukungan untuk biaya kebutuhan sehari-hari, pemeriksaan kesehatan, serta modal usaha kecil agar ia bisa tetap bertahan tanpa harus memaksakan tubuhnya yang sudah renta.
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, mari kita jadikan momen kebaikan sebagai jalan untuk membantu Abah Umid dan keluarganya. Kalian dapat berpartisipasi dengan menyebarkan campaign ini dan berdonasi dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
