Bantu Abah Junaedi Lansia Pengayuh Becak Masih Berjuang Demi Istri yang Sakit

Bantu Abah Junaedi Lansia Pengayuh Becak Masih Berjuang Demi Istri yang Sakit

Rp 150.000
terkumpul dari Rp 30.000.000
6 Donatur
30 hari lagi
Donasi Sekarang
Terakhir diperbarui pada 09 September 2026 15:00 WIB

Penggalang Dana

Zillenial Action

Lembaga Resmi Terverifikasi

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

08 September 2026

Namanya Abah Junaedi, seorang lansia berusia 75 tahun yang hingga hari ini masih harus mengayuh becak demi bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan istrinya yang sedang sakit di rumah. Sejak tahun 1970-an, Abah Junaedi telah bekerja sebagai tukang becak di pusat Kota Tasikmalaya. Puluhan tahun dihabiskan dengan mengayuh becak, dari masa ketika sekali mengantar penumpang hanya dibayar sekitar Rp50, hingga sekarang rata-rata hanya mendapatkan sekitar Rp10.000 sekali jalan. Di usia yang seharusnya bisa menikmati masa tua dengan beristirahat, Abah justru masih harus bekerja dari pagi hingga sore. Setiap hari, Abah mulai mengayuh becaknya sekitar pukul 06.00 pagi dan baru berhenti sekitar pukul 17.00 sore. Namun, jika penumpang sedang sepi, Abah tak jarang harus terus mengayuh hingga malam. Pernah Abah baru pulang sekitar pukul 20.00, hanya untuk membawa pulang uang sekitar Rp20.000. Uang itu bukan untuk ditabung. Uang itu digunakan untuk membeli makan Abah dan istrinya. Abah dan istrinya kini hanya tinggal berdua di sebuah rumah kontrakan kecil. Ketika ditanya mengapa tidak tinggal bersama anak-anaknya, Abah hanya menjawab, “Abah mah gak mau merepotkan anak-anak, karena mereka juga sudah punya kewajiban sendiri.” Jawaban sederhana itu menyimpan perjuangan seorang ayah yang masih berusaha berdiri sendiri, meski tubuhnya sudah semakin renta. Punggung Abah yang mulai membungkuk sering terasa sakit ketika harus mengayuh becak. Namun, karena tidak memiliki cukup biaya untuk berobat, Abah biasanya hanya membeli obat dari warung untuk sekadar mengurangi rasa sakitnya. Di sisi lain, Abah juga sedang memikirkan uang kontrakan yang belum terbayarkan. Sebenarnya, Abah ingin beristirahat di rumah. Ia ingin menemani istrinya yang sedang sakit dan menikmati masa tua tanpa harus terus mengayuh becak. Namun keadaan memaksanya kembali ke jalan. “Abah juga pengennya mah istirahat di rumah, nemenin istri. Tapi kalau Abah gak ngabeca, dari mana Abah sama istri mau dapat makan?” Kini, di usia 75 tahun, Abah Junaedi masih mengayuh becaknya bukan karena ingin mengejar banyak uang. Abah hanya ingin memastikan hari itu dirinya dan istrinya masih bisa makan. Di tengah tubuh yang semakin lemah, penghasilan yang tak menentu, biaya kontrakan yang belum terbayar, serta istri yang sedang sakit, Abah masih memilih untuk berjuang daripada meminta kepada anak-anaknya. Mari kita bantu meringankan beban Abah Junaedi. Sedikit bantuan dari kita mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi Abah, bantuan itu bisa berarti makan untuk hari ini, obat untuk mengurangi sakitnya, dan kesempatan untuk beristirahat sejenak dari beratnya kehidupan. Yuk, sisihkan sebagian rezeki kita untuk membantu Abah Junaedi dan istrinya. Semoga kebaikan kecil yang kita berikan menjadi jalan hadirnya kehidupan yang lebih layak bagi mereka.

Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.

Doa & Donasi Teman Peduli

Anonim

09 September 2026 13:02
Rp 20.000
Amin
JADI#SirkelBaik