Diperbarui 15 October 2026, 03:00 WIB
“Sedih Emak teh… Kedah namah tos cicing, ngan ripuh ue icalan keliling…” (Sedih, Emak teh… Harusnya mah sudah bisa diam di rumah, tapi hidup Emak makin berat kalau tidak jualan keliling…) Ucap Mak Elim, seorang lansia penjual Bangkerok makanan tradisional dari beras ketan dan kelapa yang dibakar. Usianya sudah 65 tahun. Tubuhnya sudah renta, punggungnya bongkok sejak kecil karena pernah jatuh, namun sampai hari ini ia tetap memaksakan diri berjuang demi kehidupan dirinya, cucu, dan cicit yang tinggal bersamanya.
Setiap hari ia memulai hidup dengan langkah yang ringkih. Jam 5 subuh ia sudah keluar rumah untuk belanja bahan, lalu jam 6 mulai mengolahnya seorang diri. Setelah itu, dari jam 12 siang sampai jam 2 atau 3 sore, ia berjalan kaki keliling kampung menjual Bangkerok seharga 10 ribu per buah. Hujan ataupun panas tidak pernah menghentikannya untuk mecari nafkah.
Ketika ditanya kenapa tetap memaksa jualan, ia hanya menjawab lirih,
“Mun teu icalan kumaha atuh… teu gaduh artos kanggo emam…”
(Kalau tidak jualan, bagaimana… Emak tidak punya uang untuk makan…)
Padahal saat kami datang ke rumahnya, beliau sedang sakit. Darah tinggi dan gula naik, sehingga sudah dua hari ia tidak bisa berjualan. Hari itu pun ia memaksakan berjualan karena tidak ada pilihan lain, bahkan modal untuk membuat Bangkerok saja ia harus pinjam dari tetangga.
Penghasilannya tak seberapa. Kadang hanya 20 ribu, kadang 50 ribu kalau jualannya habis. Namun sering kali dagangannya tidak laku semua. Padahal, untuk menjajakan itu semua, ia harus berjalan lebih dari 3 kilometer.
Mak Elim tinggal bersama salah satu anaknya, beberapa cucu, dan cicit-cicit kecil yang butuh makan dan sekolah. Semuanya ditanggung Mak Elim dari hasil jualannya. Suaminya sudah lama meninggal karena kecelakaan, dan anak-anak lain hidup pas-pasan sehingga tak mampu banyak membantu.
Rumah yang mereka tempati pun sangat memprihatinkan. Bagian dapur pernah terbakar karena kompor gas meledak. Dindingnya hitam hangus, beberapa bagian sudah roboh dan hanya ditutup terpal lusuh. Jika hujan turun, hampir seluruh atap bocor. Rumah tua itu bahkan harus ditopang dua tiang baja ringan supaya tidak roboh menimpa mereka.
Mak Elim sebenarnya sudah sangat lelah. Tubuhnya lemah, usianya tak lagi muda, hidupnya penuh luka dan kekurangan. Tapi demi anak, cucu, dan cicit yang ia sayangi, ia tetap memaksakan kaki tuanya melangkah setiap hari. Ia masih menyimpan keinginan sederhana yakni ingin memperbaiki rumahnya agar layak dihuni, dan memiliki sedikit modal untuk meningkatkan penghasilan nya, supaya bisa terus bertahan hidup.
Perjuangan Mak Elim mengajarkan kita satu hal, Saat hidup terasa begitu berat, jangan menyerah… karena harapan akan selalu ada selama kita tetap berusaha.
Melihat perjuangan Mak Elim di usia senjanya, kita sadar bahwa tidak semua orang bisa menikmati masa tua dengan tenang. Ada yang tetap harus berjalan jauh, memaksa tubuh yang sakit, hanya demi sesuap nasi dan masa depan anak-cucu.
Mari ulurkan tangan untuk membantu Mak Elim dalam memperbaiki rumahnya yang hampir roboh, memberikan modal usaha, serta membantu memenuhi kebutuhan hidupnya dan cucu-cicitnya.
#Sahabatkebaikan berapa pun yang kita sisihkan, sekecil apa pun, sangat berarti bagi Mak Elim yang setiap hari berjuang seorang diri. Ayo jadi alasan Mak Elim tersenyum lagi dengan membantu ringankan langkah perjuangannya.
Semoga setiap kebaikan yang kita berikan menjadi jalan datangnya rezeki dan keberkahan tanpa henti.
Dsiclaimer: Dana yang terkumpul akan digunakan untuk Modal Usaha Mak Elim, Renovasi Rumah, Pemenuhan kebutuhan Hidupnya dan jika terdapat kelebihan dana akan digunakan untuk pemenuhan Program Pangan Bumi Syam serta Pemenuhan kebutuhan para Penerima manfaat lainnya yang berada dibawah naungan Yayasan Global Sedekah Movement.
Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.
Ajak teman dan keluargamu ikut membantu lewat halaman galang dana milikmu sendiri.
Gabung