Di tengah riuhnya kota, di bawah payung kecil yang warnanya mulai pudar, Abah Ade dan Mak Eni duduk berdampingan. Mereka bukan meminta-minta. Mereka memilih menghibur, dengan sebuah piano tua dan suara yang tak lagi sempurna, namun penuh rasa.
Jemari Abah yang bergetar tetap setia menekan tuts yang mulai kusam. Di sampingnya, Mak Eni bernyanyi pelan, sesekali melempar senyum hangat pada orang-orang yang berlalu lalang. Mereka berharap, ada yang berhenti sejenak… bukan hanya untuk memberi, tapi untuk merasakan.
Sejak pagi hingga senja, mereka bertahan di tempat yang sama. Bukan sekadar mencari uang, karena dari setiap lagu, tersimpan kenangan masa muda, mimpi yang dulu tak sempat terwujud. Kini, di usia senja, mereka tetap memilih bertahan dengan cara yang sederhana: bermusik dengan sepenuh hati.

Penghasilan mereka tak seberapa. Bahkan, sering kali hanya cukup untuk makan sederhana di malam hari. Pendengaran yang mulai melemah tak menghentikan langkah mereka. Karena bagi Abah dan Mak Eni, musik bukan sekadar hiburan, musik adalah napas kehidupan.
Namun di balik perjuangan itu, ada kenyataan yang jauh lebih pilu. Rumah yang mereka tinggali nyaris roboh, atapnya bocor di banyak sisi, dan mereka bahkan tak memiliki kamar mandi yang layak. Saat malam tiba, hanya terpal seadanya yang melindungi mereka dari dingin dan angin.

Mereka punya satu harapan sederhana: memperbaiki rumah satu-satunya agar bisa ditinggali dengan aman di sisa usia mereka. Teman Berbagi, Maukah kamu menjadi bagian dari harapan itu? Sedikit bantuan darimu, bisa menjadi tempat berteduh yang layak bagi Abah Ade dan Mak Eni. Karena di balik kesederhanaan mereka, ada cinta dan perjuangan yang begitu besar.
