Di usia 66 tahun, saat banyak orang seusianya mulai beristirahat menikmati masa tua, Pak Ade Soegita justru masih harus memikul keranjang kecimpring dan berjalan berkeliling kampung demi menghidupi keluarganya. Di rumah, ada dua anak yang sama-sama membutuhkan perawatan sepanjang waktu.
Anak sulung Pak Ade mengalami kelainan perkembangan sejak berusia 3 tahun setelah sempat mengalami kejang. Seiring bertambahnya usia, kondisinya semakin memburuk hingga kini lumpuh total dan tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Karena keterbatasan biaya dan akses pengobatan pada masa itu, Pak Ade hanya mampu membawanya berobat seadanya.
Cobaan kembali datang ketika anak keduanya, Acep (33 tahun), didiagnosis mengidap kanker lebih dari 3 tahun lalu. Penyakit itu membuat Acep sering merasakan nyeri hebat yang melilit tubuhnya hingga hanya bisa terbaring lemah menjalani pengobatan.
Yang paling menyakitkan bagi Acep bukan hanya rasa sakit akibat kanker, tetapi juga kenyataan bahwa ia hampir tak pernah bisa menikmati masa-masa tumbuh kembang anak pertamanya. Sejak sang buah hati masih berusia 3 bulan, Acep sudah jatuh sakit hingga tak mampu menggendong, bermain, ataupun menemani anaknya seperti seorang ayah pada umumnya.
Karena Acep telah berkeluarga dan memiliki balita, istrinya harus fokus mengurus anak mereka. Akhirnya, seluruh perawatan Acep diserahkan kepada sang ibu, Bu Siti, yang setiap hari juga harus merawat anak sulungnya yang mengalami disabilitas. Dalam satu rumah, Bu Siti harus menjadi perawat bagi dua anak yang sama-sama membutuhkan perhatian penuh.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pengobatan, Bu Siti membuat kecimpring dari singkong setiap hari. Setelah selesai diproduksi, Pak Ade menjualnya dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung. Penghasilan yang diperoleh tidak menentu dan sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, sementara biaya pengobatan kedua anaknya terus berjalan.
Meski tubuhnya semakin renta, Pak Ade tak pernah mengeluh. Demi kedua anaknya, ia terus berjalan menjajakan kecimpring, berharap masih ada rezeki yang bisa dibawa pulang untuk keluarganya.
Sahabat baik, perjuangan keluarga Pak Ade masih sangat panjang. Bantuan yang Anda berikan akan digunakan untuk membantu biaya pengobatan Acep, memenuhi kebutuhan perawatan anak sulung yang mengalami disabilitas, membantu kebutuhan hidup sehari-hari keluarga, serta mendukung usaha kecil kecimpring yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan mereka.
Mari ringankan beban Pak Ade dan Bu Siti. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan menjadi harapan besar bagi keluarga sederhana yang telah bertahun-tahun berjuang merawat dua anaknya dengan penuh kasih sayang.