JUAL KAYU BEKAS SERING TAK LAKU!!! Abah Arma Terpaksa Menahan Lapar Sampai Gemetar.

JUAL KAYU BEKAS SERING TAK LAKU!!! Abah Arma Terpaksa Menahan Lapar Sampai Gemetar.

Rp 0
terkumpul dari Rp 30.000.000
0 Donatur
30 hari lagi
DONASI SEKARANG
Terakhir diperbarui pada 27 May 2026 03:00 WIB

Penggalang Dana

WAN Kuningan

Lembaga Resmi Terverifikasi

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

25 May 2026

"Abah sudah lelah hidup susah terus... Abah sering berpikir ingin segera meninggal saja," ucap Abah Arma (79 thn) lirih, tatapannya kosong menatap jalanan sepi. Kalimat pilu itu keluar dari bibir seorang lansia yang jiwanya telah patah oleh kemiskinan yang mencekik. Sejak kepergian sang istri tercinta, dunia Abah berubah menjadi tempat yang teramat asing dan kejam untuk ia lalui seorang diri. Setiap pagi, dengan sisa-sisa tenaga di tubuh rentanya, Abah mengayuh sepeda tua menyusuri perumahan demi perumahan. Matanya jeli mencari potongan kayu bekas yang dibuang orang. Kayu-kayu berat itu ia kumpulkan di atas sepedanya untuk kemudian dijual. Namun, dunia sering kali acuh. Dari pagi hingga matahari terbenam, sering kali tak ada satu pun orang yang sudi membeli kayu Abah. Jika beruntung laku, uang yang didapat tidak pernah lebih dari Rp10.000, atau terkadang hanya ditukar dengan sebungkus nasi putih. Saat dagangan sepi, lapar menjadi musuh paling nyata bagi Abah. Saking laparnya, tubuh ringkihnya sering kali bergetar hebat di pinggir jalan. Kepalanya pusing, tenaganya habis total, hingga Abah hanya bisa terduduk lemas di aspal, tak sanggup lagi untuk sekadar berdiri. Di saat seperti itu, ingatan tentang almarhumah istrinya kian menusuk dada. Abah merasa sendirian dan tak lagi punya pegangan hidup. Kondisi rumah asli Abah sudah sangat memprihatinkan dan tidak layak huni. Kini, ia terpaksa menumpang tinggal di rumah anaknya. Namun, sang anak pun hidup dalam keterbatasan yang nyata sebagai buruh cuci (steam) motor. Penghasilan anaknya yang pas-pasan membuat mereka harus berhemat luar biasa, dan Abah tidak ingin terus-menerus menjadi beban bagi darah dagingnya sendiri. Sobat Berdampak, Abah Arma adalah salah satu dari sekian banyak lansia yang terancam kehilangan harapan hidupnya karena himpitan ekonomi. Di usia yang sudah senja ini, beliau tidak meminta kemewahan. Abah hanya ingin merasakan ketenangan, perut yang terisi kenyang, dan sisa usia yang bahagia tanpa perlu gemetar kelaparan di jalanan lagi. ​Mari kita hadir sebagai alasan Abah Arma untuk kembali tersenyum dan percaya bahwa masih banyak orang baik di dunia ini.

Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.
JADI#SirkelBaik