Di usia 72 tahun, Abah Entung masih harus berkeliling menjajakan balon demi bertahan hidup di jalanan. Setiap pagi, Abah memulai langkahnya dari tempat tinggal sederhana, menyusuri sudut-sudut kota Karawang dengan balon warna-warni di tangannya. Namun di balik itu semua, tersimpan perjuangan panjang yang penuh lelah dan kesunyian.
Tak seperti pedagang lainnya, Abah harus menempuh jarak yang sangat jauh setiap harinya. Bahkan, demi menghemat biaya, Abah sering tidak pulang hingga 5 sampai 7 hari. Malam-malamnya dihabiskan di emperan toko, beralaskan seadanya, ditemani dinginnya malam bersama para tunawisma.
Di usia senjanya, tubuh Abah sudah tak lagi sekuat dulu. Ia mengidap asma yang kerap kambuh, terutama saat kelelahan setelah berjalan seharian. Sepeda yang ia bawa pun sudah tak mampu lagi dikayuh Abah hanya bisa mendorongnya pelan dari satu tempat ke tempat lain, dengan napas yang sering tersengal. Namun yang paling berat bukan hanya lelahnya perjalanan, melainkan sepinya pembeli. Dari pagi hingga siang, seringkali tak ada satu pun balon yang terjual. Penghasilannya sangat tidak menentu, kadang hanya Rp20.000 hingga Rp30.000 per hari itu pun jika ada yang membeli. Tak jarang, Abah harus melewati hari tanpa penghasilan sama sekali.
Dalam kondisi seperti itu, lapar menjadi hal yang biasa. Abah sering menahan perut kosong sejak pagi hingga malam karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Ia hanya bisa bertahan, berharap esok hari akan lebih baik.
Meski hidup dalam keterbatasan, Abah tak pernah memilih untuk meminta-minta. Ia tetap berjalan, tetap berusaha, dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Baginya, berjualan balon adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup dengan bermartabat.
Agar ia bisa makan dengan layak, tidak lagi tidur di emperan, dan perlahan merasakan tenang di masa tuanya.
Mari jadi alasan Abah bisa berhenti sejenak dari kerasnya hidup.
Karena kebaikanmu hari ini, bisa mengubah hari esok Abah Entung
