Bantu Kakek 73 Tahun Penjual Kopi Hidup Layak!

Bantu Kakek 73 Tahun Penjual Kopi Hidup Layak!

Rp 0
terkumpul dari Rp 30.000.000
0 Donatur
29 hari lagi
Donasi Sekarang!
Terakhir diperbarui pada 19 May 2026 12:00 WIB

Penggalang Dana

Lentera Pijar Kebaikan

Lembaga Resmi Terverifikasi

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

18 May 2026

Di sudut kota yang ramai namun tak pernah benar-benar peduli, ada seorang lelaki tua bernama Abah Iwan. Usianya sudah 73 tahun. Rambutnya memutih, dan langkahnya tak lagi sekuat dulu. Namun setiap pagi, ia tetap bangun dengan satu tujuan sederhana: bertahan hidup hari ini. Ia hidup sebatang kara. Tak ada keluarga yang menunggu, tak ada tangan yang menggenggam ketika malam terasa dingin. Kadang ia tidur di masjid, bersandar di tiang sambil memeluk tas kecilnya. Kadang, jika beruntung, ia menumpang di rumah teman-teman yang masih berbaik hati.


Di punggungnya, selalu tergendong termos dan perlengkapan sederhana. Ia berjualan kopi keliling. Dari gang ke gang, dari jalan ke jalan. Dengan suara lirih, ia menawarkan, “Ngopi, Pak… Bu… kopi hangat…” Tak banyak yang berhenti. Kadang hanya satu dua orang. Penghasilannya pun tak menentu. Sehari, ia hanya membawa pulang sekitar dua puluh hingga dua puluh lima ribu rupiah. Uang itu harus cukup untuk makan, untuk bertahan, untuk melanjutkan hari esok.


Padahal, di dalam tubuh renta itu, ada penyakit yang diam-diam menggerogoti: jantungnya tak lagi kuat. Sering kali ia menahan nyeri di dada sambil tetap berjalan, seolah rasa sakit itu tak berhak menghentikan langkahnya. Ia tahu, kalau ia berhenti, ia tak akan punya apa-apa.


Namun di balik semua keterbatasan itu, Abah Iwan masih menyimpan satu harapan kecil. Ia tidak meminta banyak. Ia hanya ingin punya sedikit modal usaha. Cukup untuk membuka warung kopi kecil, atau setidaknya berdagang tanpa harus terus berjalan jauh dengan tubuh yang sakit.


“Abah cuma ingin bisa makan tiap hari tanpa harus terlalu capek,” katanya suatu waktu, dengan senyum yang tetap ia paksakan. Malam hari, saat orang lain terlelap di rumah masing-masing, Abah Iwan sering menatap langit dari serambi masjid. Dalam diam, ia berdoa. Bukan untuk kaya, bukan untuk hidup mewah. Hanya untuk esok yang sedikit lebih ringan dari hari ini. Di dunia yang serba cepat ini, mungkin kisah Abah Iwan hanya seperti setitik debu. Namun bagi dirinya, setiap langkah adalah perjuangan. Setiap rupiah adalah harapan. Dan setiap hari yang ia lewati… adalah kemenangan kecil yang tak semua orang mampu pahami.


  1. Klik Tombol Donasi Sekarang
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Pilih metode pembayaran (Go-Pay/ OVO/virtual account)
  4. Dapatkan Laporan Via Email


Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.
JADI#SirkelBaik