Setiap hari sebelum azan Subuh berkumandang, Abah Karim (82 thn) sudah harus memaksakan tubuh rentanya berdiri. Meskipun sendi-sendinya sering nyeri dan napasnya kerap tersengal, ia tetap melangkah menyusuri kegelapan menuju pasar yang berjarak 15 kilometer dari rumahnya. Di pundaknya, ia memikul beban berat; bukan hanya dagangan sayuran milik orang lain, tapi juga masa depan cucu tercintanya, Putri (3 thn).
Putri adalah cahaya di tengah masa senja Abah yang sepi. Setelah istrinya wafat, Abah menjadi satu-satunya pelindung bagi Putri yang ditinggal pergi ayahnya sejak dalam kandungan. Namun, setiap hari Abah harus menelan pil pahit karena terpaksa meninggalkan Putri sendirian untuk mencari nafkah. "Kasian Putri kalau terus Abah tinggal, tapi kalau Abah berhenti, kami makan apa?" lirih Abah dengan mata berkaca-kaca.
Penderitaan Abah tak berhenti di jalanan. Di rumah, ia dihantui ketakutan besar. Gubuk kecil tempat mereka berteduh sudah hampir roboh. Dinding bambunya lapuk, lantainya lembap, dan atapnya penuh lubang. Setiap kali angin kencang datang, rumah itu bergoyang seolah akan ambruk kapan saja. Di malam yang hujan, Abah hanya bisa memeluk Putri erat-erat sambil berdoa agar atap rumah mereka tidak menimpa mereka saat tidur.
Harapan Abah sangatlah sederhana. Di usianya yang hampir seabad, ia ingin sekali memiliki modal usaha untuk berdagang di rumah. Ia ingin terus melihat senyum Putri tanpa harus meninggalkannya sejak pagi buta. Ia ingin memperbaiki gubuknya agar Putri bisa tidur dengan tenang tanpa rasa takut.
Insan Baik, tenaga Abah Karim terus menipis seiring bertambahnya usia. Sampai kapan ia sanggup berjalan 15 kilometer setiap hari? Mari kita bersama-sama meringankan langkah rapuh Abah. Jangan biarkan ia berjuang sendirian menjaga cahaya kecilnya di tengah rumah yang hampir roboh.
