Abah Niko, seorang lansia berusia 73 tahun, kini bertahan hidup dengan berjualan kopi seharga Rp4.000 per gelas. Dahulu, Abah pernah bekerja sebagai sales manager yang membantu Damri, bahkan sempat menjadi kuli bangunan. Namun, kondisi ekonomi memburuk setelah banyak orang meminjam uang dan berutang kepadanya tanpa mengembalikan. Modal usaha pun habis, membuat Abah beberapa kali harus menahan lapar hingga dua hari karena dagangannya tidak laku dan ia tak memiliki uang untuk membeli bahan dagangan maupun makanan. Dalam keseharian, Abah sering hanya makan sekali sehari dengan nasi tanpa lauk, bahkan pernah menahan lapar dengan meminum air dagangannya sendiri.

Kini penghasilan Abah semakin tidak menentu. Jika sedang ramai, ia bisa memperoleh sekitar Rp70.000, namun belakangan dagangannya semakin sepi. Pernah suatu hari Abah hanya mendapatkan Rp10.000, sementara uang tersebut harus digunakan untuk membayar air panas termos yang dipakai berjualan. Tanpa sisa untuk kebutuhan pribadi, Abah terus berjuang meski utang pelanggan mencapai lebih dari Rp1.300.000. Demi bertahan, ia terpaksa meminjam Rp200.000 dari bank keliling, yang hingga kini masih tersisa Rp150.000 belum terbayar.

Selama 11 tahun terakhir, Abah tinggal di halte bus daerah Elang karena tidak mampu lagi membayar kontrakan. Dinding kaca halte sudah tidak ada, sehingga saat hujan turun ia pasti kebasahan dan harus menahan dingin serta kebisingan kendaraan yang lalu lalang. Dengan beralas kardus serta selimut pemberian orang lain, Abah mencoba beristirahat setiap malam. Untuk mandi, ia menumpang di SPBU. Kehidupan yang keras membuat Abah sering kehilangan barang, mulai dari ponsel yang dicuri hingga dagangan yang pernah diambil saat ia tidur. Tak jarang ia juga mendapat hinaan sebagai “gembel” karena tinggal di halte.

Di usia senjanya, Abah hidup seorang diri setelah istrinya meninggal 15 tahun lalu dan keluarganya tak lagi bersama. Meski kehilangan rumah dan harta yang pernah dimiliki, Abah tetap berusaha bertahan dengan sisa tenaga yang ada. Ia hanya berharap dapat kembali memiliki modal usaha agar bisa berjualan dengan layak, melunasi utang, dan menjalani hari tua dengan lebih tenang.
Di Bulan Ramadhan yang penuh keberkehan ini mari kita bantu abah niko untuk hidup lebih layak dengan cara ;

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
