Abah Nono berusia 91 tahun. Di usia setua itu, banyak orang sudah berhenti bekerja dan lebih banyak beristirahat. Tapi tidak dengan Abah.
Sejak tahun 1980-an, Abah Nono hidup dari berjualan lap. Puluhan tahun lamanya, ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Awalnya tanpa sepeda. Lap digantung di tangan atau di pundaknya. Setelah itu, ia menggunakan sepeda tua pemberian orang. Sepeda yang sama, yang telah menemaninya bertahan hidup selama lebih dari 20 tahun.

Setiap pagi sekitar pukul 9, Abah mulai berjualan. Dulu ia pulang sore. Namun sejak empat tahun terakhir, Abah memaksakan diri berjualan hingga malam. Kadang hingga isya, kadang hingga pukul 11 malam. Bukan karena ingin. Tapi karena kebutuhan hidup tak bisa menunggu.
Kini tubuh Abah tak lagi kuat. Matanya sangat buram. Dingin malam menusuk tulang. Jalanan gelap menjadi semakin berbahaya. Abah sadar, ia tidak sanggup lagi berjualan sampai malam. Tapi berhenti berarti tidak ada pemasukan.

Lap yang Abah jual bukan miliknya. Sistemnya setoran. Setiap empat lap, Abah harus menyetor Rp7.500. Ia menjualnya Rp10.000 dan dari jumlah tersebut, keuntungan bersih Abah hanya Rp2.500 untuk setiap empat lap. Dalam sehari, omzet Abah rata-rata sekitar Rp75.000. Uang yang benar-benar tersisa di tangannya hanya sekitar Rp30.000. Itu untuk makan, obat, dan kebutuhan hidup bersama istrinya.
Jika sedang sepi, lap tak laku, Abah sering memilih menahan lapar. Kadang Abah dan istrinya hanya makan singkong atau ubi. Yang penting di rumah masih ada sesuatu untuk dimakan.
Abah masih memiliki istri berusia 65 tahun. Istrinya membantu sebisanya dengan menjadi buruh tandur di sawah orang lain. Upahnya Rp50.000 per hari. Itu pun jika ada panggilan. Sekarang, panggilan itu semakin jarang.

Abah punya tiga anak. Dua sudah menikah namun hidup pas-pasan. Anak ketiganya bekerja serabutan sebagai tukang bangunan. Sesekali, kebutuhan anak bungsunya yang masih 20 tahun justru masih Abah yang menanggung. Abah tetap berjualan bukan karena ingin. Tapi karena ia tahu, anak-anaknya pun sedang berjuang.
Dulu, sebelum tinggal bersama anaknya, Abah menempuh perjalanan sangat jauh dengan sepeda. Berjam-jam mengayuh. Sering kemalaman di jalan. Jika lelah, Abah beristirahat di depan toko. Lalu melanjutkan perjalanan agar bisa tidur di rumah saudara.
Sepeda Abah sering rusak seperti ban yang kempes dan rantai yang rusak. Sehingga Abah selalu membawa pompa ban ke mana-mana. Di tanjakan, Abah tak sanggup lagi mengayuh. Ia hanya bisa mendorong sepedanya pelan-pelan.
Abah pernah tertabrak motor sampai tak sadarkan diri. Kepalanya dan kakinya harus dijahit. Abah juga pernah ditipu Rp2.000.000 miliknya dibawa kabur. Uang itu ia pinjam demi membantu anaknya bekerja. Hingga kini, utang itu masih menjadi beban di pundaknya.
Penyakit asam urat membuat kaki Abah sering nyeri. Jari-jari kakinya bengkok karena tidak pernah mendapat pengobatan yang layak. Obat yang bisa Abah beli hanya obat murah seharga Rp2.500 per strip. Abah ingin berobat lebih baik. Tapi ia selalu memilih mendahulukan kebutuhan istrinya.
Di usia 91 tahun, Abah masih memaksakan diri berjualan saat badannya sakit. Ia takut jika berhenti, tidak ada apa-apa yang bisa dibawa pulang.
Kini, keinginan Abah sangat sederhana. Ia hanya ingin memiliki bekal waragad. Biaya pemakaman. Agar kelak ia tidak merepotkan siapa pun. Untuk itu, dengan keuntungan Rp2.500, Abah masih berusaha mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Di usia yang sangat renta.
Abah Nono tidak meminta kemewahan. Ia hanya ingin hidup dengan sedikit lebih tenang di sisa usianya. Donasi Anda bisa membantu memenuhi kebutuhan hariannya. Membantu biaya pengobatan. Membantu meringankan beban hidup seorang kakek 91 tahun yang telah bekerja hampir seumur hidupnya.
Hari ini, Abah Nono masih berjualan. Dengan tubuh yang semakin lemah. Dengan sepeda tua. Dengan harapan kecil yang terus ia jaga.
Mari bantu Abah Nono. Agar di sisa hidupnya, ia tidak lagi harus menahan lapar dan menahan sakit sendirian.
Sobat Berdampak! Mari wujudkan Ramadan yang penuh dengan kebaikan melalui campaign dan program Semua Berhak Dirayakan. Kalian dapat berpartisipasi dengan menyebarkan campaign ini dan berdonasi dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.