Abah Nono kini berusia 91 tahun. Sejak tahun 1980-an, Abah menggantungkan hidupnya dengan berjualan lap dari rumah ke rumah. Dulu, sebelum memiliki sepeda, Abah berkeliling dengan berjalan kaki. Sepeda yang ia gunakan hingga hari ini pun bukan milik sendiri, melainkan pemberian orang laini. Dengan sepeda tua itulah Abah menempuh jarak jauh, bahkan dulu pernah berjualan hingga Jatinangor–Bandung dari Cicalengka, mengayuh selama lebih dari tiga jam, sering berhenti karena kelelahan, dan tak jarang pulang larut malam.
Lap yang dijual Abah menggunakan sistem setoran. Dari setiap 4 potong lap, Abah harus menyetor Rp7.500 kepada pemilik modal dan menjualnya seharga Rp10.000. Artinya, keuntungan bersih Abah hanya Rp2.500. Dalam sehari, omzet Abah rata-rata sekitar Rp75.000, namun uang bersih yang benar-benar dibawa pulang hanya sekitar Rp30.000. Jika sedang ramai, hasil jualan bisa mencapai Rp200.000–300.000, tetapi kondisi seperti itu jarang terjadi. Ketika lap sepi pembeli, Abah dan istrinya harus menahan lapar atau berpuasa karena tak ada yang bisa dimakan.
Di usianya yang semakin renta, kondisi fisik Abah kian melemah. Penglihatannya sangat buram, tubuhnya tak lagi kuat menghadapi dingin malam, dan asam urat membuat kaki serta jari-jarinya bengkok karena tak pernah mendapat pengobatan layak. Meski sering sakit dan pusing, Abah tetap memaksakan diri berjualan. Bahkan, Abah pernah jatuh tertabrak motor hingga tak sadarkan diri dan harus dijahit di kepala serta kakinya. Tak jarang pula Abah harus mendorong sepedanya karena tak sanggup mengayuh di jalan menanjak, sambil membawa pompa ban karena sepedanya sering kempes dan rantainya kerap terlepas.
Abah masih memiliki seorang istri berusia 65 tahun yang sesekali membantu memenuhi kebutuhan harian dengan menjadi buruh tandur di sawah, jika ada panggilan. Upahnya pun hanya Rp50.000 per hari, dan kini pekerjaan itu semakin jarang. Dari tiga anak Abah, dua sudah menikah namun juga hidup dalam keterbatasan. Anak bungsunya yang berusia 20 tahun bekerja serabutan sebagai tukang bangunan, dan dalam kondisi tertentu masih harus ditanggung oleh Abah. Meski hidup sulit, Abah tidak ingin membebani anak-anaknya dan memilih terus berjualan selama masih mampu berdiri.
Kini, di usia 91 tahun, Abah Nono hanya memiliki satu harapan sederhana: mengumpulkan bekal untuk kebutuhan akhir hidupnya—biaya pemakaman dan santunan bagi orang-orang yang kelak membantu kepulangannya. Dengan keuntungan hanya Rp2.500 per jualan, Abah juga harus menanggung utang anaknya sebesar Rp2.000.000, serta kebutuhan obat asam urat seadanya. Beberapa kali Abah kehilangan uang karena terjatuh atau ditipu, namun semua itu ia jalani dengan pasrah dan tabah, sambil terus berjuang dari hari ke hari.
Sobat Berdampak, di bulan ramadhan yang penuh keberkahan ini mari ulurkan tangan untuk Abah Nono. Bantuan dari Anda akan sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan hidup, kesehatan, dan ketenangan hari tua Abah. Klik “Donasi Sekarang” dan jadilah bagian dari harapan Abah Nono.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
