Setiap pagi, saat banyak orang seusianya memilih beristirahat di rumah, Abah Otong justru mulai berjalan membawa celengan keramik dagangannya. Dengan suara cadelnya, Abah terus memanggil, “nabung… nabung… nabung…” sambil menyusuri jalanan dari satu tempat ke tempat lain 🥺 Tak banyak yang tahu, di balik langkah pelannya itu ada rasa sakit yang terus ditahan setiap hari. Abah mengalami cacat bawaan pada tangan dan kaki sejak lahir. Kini, di usia 73 tahun, tubuhnya semakin lemah. Pinggang hingga kaki kanannya sering nyeri hebat, namun Abah tetap memaksakan diri berjalan hingga puluhan kilometer tanpa alas kaki demi membawa pulang uang untuk makan.
Sudah lebih dari 30 tahun Abah berjualan keliling. Penghasilannya pun tak menentu. Kadang hanya membawa pulang sekitar Rp20 ribu, bahkan sering dagangannya tak laku sama sekali. Tapi bagi Abah, berhenti berjalan berarti tidak ada makanan untuk hari itu.
Dulu, Abah masih ditemani sang istri. Namun 8 tahun lalu, istrinya meninggal akibat stroke. Sejak saat itu, Abah menjalani hari-harinya sendiri sambil terus berjuang melawan kerasnya hidup dan kondisi tubuh yang semakin renta 💔 Abah sebenarnya punya harapan sederhana. Ia ingin berobat agar rasa sakitnya berkurang, dan memiliki usaha kecil supaya tak perlu lagi keliling jauh mempertaruhkan tubuhnya di jalanan. Melalui penggalangan dana ini, kami mengajak sahabat baik semua untuk membantu Abah Otong mendapatkan pengobatan, kebutuhan hidup yang layak, serta modal usaha agar masa tuanya bisa dijalani dengan lebih tenang. Sedikit bantuan darimu bisa jadi alasan Abah tak harus terus berjalan sambil menahan sakit setiap harinya
