Di pelosok Cidaun, Cianjur Selatan, hidup sepasang lansia dhuafa yang setiap harinya bertahan dengan cara yang tak pernah mudah. Abah Ruslan, seorang penyadap kawung sekaligus pembuat gula merah, menggantungkan hidupnya dari pohon-pohon tinggi yang harus ia panjat setiap hari meski tubuhnya sering digerogoti sakit lambung dan nyeri kaki.

Dalam sehari, Abah hanya mampu menghasilkan 3–4 mangkuk gula merah kawung. Satu mangkuk dijual seharga Rp11.000, namun bersih yang Abah terima hanya sekitar Rp3.000. Jumlah yang bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.

Emak Ruslan, istrinya tercinta, kini hanya bisa melihat dengan satu mata. Ulkus Kornea di mata kanannya membuat penglihatannya hilang, disertai rasa sakit yang sering berujung pada sakit kepala hebat dan bahkan keluarnya darah dari mata. Mereka sempat berobat hingga ke luar kota, namun harus berhenti karena biaya dan akses yang begitu sulit dari kampung mereka.
Ironisnya, keterbatasan ini tak jarang dibalas dengan hinaan. Emak pernah disebut “buta” oleh tetangga. Abah hanya bisa menahan perih di dadanya, lalu berdoa dalam diam semoga setiap hinaan berubah menjadi hikmah dan rezeki.

Mereka tak memiliki rumah layak. Yang mereka tempati hanyalah saung kecil dari kayu dan terpal, sebagian terpal pun hasil pinjaman tetangga. Saat hujan datang, bocor ada di mana-mana. Bahkan saung mereka kerap kebanjiran, memaksa Abah dan Emak hanya berdiam diri tanpa bisa beraktivitas.
Air bersih pun tak mereka miliki. Emak harus menampung air hujan untuk kebutuhan minum dan memasak. Penerangan di malam hari hanya satu lampu cas seadanya. Abah sering menyadap hingga malam, lalu melanjutkan memasak hasil sadapan berjam-jam di atas hawu, bergelut dengan panas dan asap setiap hari.
Meski hanya bisa melihat dengan satu mata, Emak tetap setia mendampingi Abah mengolah gula merah. Mereka saling menguatkan, saling menemani bahkan di saat perut kosong. Tak jarang, mereka makan nasi dingin hanya dengan garam, karena tak mampu membeli lauk.
Hutang di warung terus menumpuk. Setiap minggu, penghasilan mereka habis untuk membayar utang, membuat mereka terus terjebak dalam lingkaran “tutup lubang, gali lubang”.
Hari ini, kita bisa menjadi jawaban dari doa yang selama ini hanya mereka panjatkan dalam sunyi.
Sedikit dari kita, sangat berarti bagi Abah dan Emak.
Mari ulurkan tangan, bantu mereka hidup lebih layak, dan buktikan bahwa mereka tidak sendirian.