THE POWER OF KINDNESS
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hallo, Sobat Berdampak!
Setiap kebaikan yang diberikan, sekecil apa pun, selalu memiliki arti bagi mereka yang membutuhkan. Melalui program The Power Of Kindness, Ayo Kita Peduli bersama Sobat Berdampak terus berupaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan kehidupan.
Pada kesempatan ini, bantuan telah disalurkan kepada penerima manfaat berupa santunan tunai, kebutuhan pokok, dan tambahan modal usaha sebagai bentuk dukungan dan kepedulian untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka.
Dek Udi: Seorang anak 6 tahun dengan kondisi mulut penuh sariawan dan keadaan ekonomi keluarga yang penuh dengan keterbatasan, membantu orang tuanya dengan bekerja sebagai penjual ATK di jembatan penyebrangan. Bantuan yang diberikan berupa santunan tunai, kebutuhan bahan pokok, kebutuhan penunjang pendidikan, tambahan modal usaha, biaya kontrakan, dan biaya pendidikan.
Abah Mamat: Seorang lansia penjual buah yang berjuang demi kesehatan cucu dan anaknya yang depresi. Bantuna yang disalurkan dalam bentuk santunan tunai, kebutuhan bahan pokok, dan tambahan modal usaha.
Dek Seana: seorang balita yang lahir dengan kondisi organ di luar perut. Bantuan yang disalurkan berupa santunan kesehatan.
Pak Sani: Seorang kakak dengan kondisi tunawicara yang bekerja sebagai driver ojek online. Bantuan yang disalurkan dalam bentuk santunan tunai dan kebutuhan bahan pokok.
Abah Ade: Lansia pejuang nafkah yang bekerja sebagai penjual kaligrafi, yang mengharuskannya memikul beban 30kg setiap hari. Bantuan yang disalurkan dalam bentuk santunan tunai.
Abah Isep: Lansia tunarungu dan tunawicara yang menjadi pejuang nafkah dengan berjualan kopi walaupun kondisinya sudah sangat ringkih. Bantuan yang disalurkan dalam bentuk santunan tunai dan kebutuhan bahan pokok.

Kebaikan yang Sobat Berdampak titipkan tidak hanya hadir dalam bentuk bantuan, tetapi juga menjadi penguat semangat, harapan, dan kebahagiaan bagi para penerima manfaat.
Terima kasih telah menjadi bagian dari gerakan kebaikan ini. Semoga setiap langkah yang kita lakukan bersama dapat terus menghadirkan manfaat dan menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan.
Karena pada akhirnya, kebaikan yang dibagikan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali menjadi keberkahan.
Salam hangat,
Ayo Kita Peduli
Hidup Abah di perantauan sungguh memprihatinkan. Karena tak memiliki biaya untuk menyewa tempat tinggal, setiap malam Abah mencari masjid untuk sekadar merebahkan diri. Tanpa alas, tanpa selimut, Abah hanya meringkuk di belakang masjid dengan tas sebagai bantal dan kain sarung tipis untuk menahan dinginnya angin malam. Abah sebetulnya punya saudara di kota rantauan ini, namun ia memilih menahan lapar dan dingin sendirian karena keluarganya merasa malu dengan pekerjaannya sebagai tukang servis payung.
Penghasilan Abah sangat jauh dari kata cukup. Ia tak berani mematok harga sehingga ia hanya menerima bayaran seikhlasnya. Tak jarang, Abah pulang dengan tangan hampa. Kondisi ini membuat Abah tertahan di kota rantauan selama satu bulan penuh; ia tak bisa pulang ke kota asal karena tak punya ongkos, bahkan tak bisa mengirim uang sepeser pun untuk istri dan kedua cucunya yang masih kecil (TK dan kelas 1 SD).
Penderitaan Abah tak berhenti di situ. Di jalanan, Abah pernah dipalak oleh dua orang tak dikenal. Saat Abah jujur mengatakan tak punya uang sama sekali, ia justru dihujat dengan kata-kata kasar di depan umum. Meski hidupnya penuh duka, Abah adalah sosok yang sangat taat beribadah dan sering menjadi imam di masjid tempatnya menumpang tidur. Setiap kali ada dermawan yang memberi makanan, Abah justru menangis saat menyuap nasi; hatinya hancur teringat istri dan cucunya di rumah, "Apakah mereka bisa makan enak seperti saya hari ini?"
Saat ini, keluarga Abah di kampung terjerat hutang di warung demi bisa membeli beras dan lauk pauk. Istri Abah yang sudah renta pun harus bekerja sebagai kuli kebun demi membantu jajan cucu-cucunya. Abah sangat ingin pulang, melunasi hutang-hutangnya, dan memiliki modal untuk membuka warung kelontong serta memelihara kambing di kampung halaman agar ia tak perlu lagi luntang-lantung di jalanan kota orang.
Beberapa informasi: