Di usianya yang telah menginjak 70 tahun, Abah Sulaiman seharusnya menikmati masa tua dengan tenang di kelilingi anak dan cucu. Namun, kenyataan hidup memaksanya menjadi musafir di jalanan. Berbekal kawat berkarat dan keahlian seadanya, Abah berjalan menyusuri banyak tempat untuk menawarkan jasa servis payung, pekerjaan yang kini mulai terlupakan zaman.
Hidup Abah di perantauan sungguh memprihatinkan. Karena tak memiliki biaya untuk menyewa tempat tinggal, setiap malam Abah mencari masjid untuk sekadar merebahkan diri. Tanpa alas, tanpa selimut, Abah hanya meringkuk di belakang masjid dengan tas sebagai bantal dan kain sarung tipis untuk menahan dinginnya angin malam. Abah sebetulnya punya saudara di kota rantauan ini, namun ia memilih menahan lapar dan dingin sendirian karena keluarganya merasa malu dengan pekerjaannya sebagai tukang servis payung.
Penghasilan Abah sangat jauh dari kata cukup. Ia tak berani mematok harga sehingga ia hanya menerima bayaran seikhlasnya. Tak jarang, Abah pulang dengan tangan hampa. Kondisi ini membuat Abah tertahan di kota rantauan selama satu bulan penuh; ia tak bisa pulang ke kota asal karena tak punya ongkos, bahkan tak bisa mengirim uang sepeser pun untuk istri dan kedua cucunya yang masih kecil (TK dan kelas 1 SD).
Penderitaan Abah tak berhenti di situ. Di jalanan, Abah pernah dipalak oleh dua orang tak dikenal. Saat Abah jujur mengatakan tak punya uang sama sekali, ia justru dihujat dengan kata-kata kasar di depan umum. Meski hidupnya penuh duka, Abah adalah sosok yang sangat taat beribadah dan sering menjadi imam di masjid tempatnya menumpang tidur. Setiap kali ada dermawan yang memberi makanan, Abah justru menangis saat menyuap nasi; hatinya hancur teringat istri dan cucunya di rumah, "Apakah mereka bisa makan enak seperti saya hari ini?"
Saat ini, keluarga Abah di kampung terjerat hutang di warung demi bisa membeli beras dan lauk pauk. Istri Abah yang sudah renta pun harus bekerja sebagai kuli kebun demi membantu jajan cucu-cucunya. Abah sangat ingin pulang, melunasi hutang-hutangnya, dan memiliki modal untuk membuka warung kelontong serta memelihara kambing di kampung halaman agar ia tak perlu lagi luntang-lantung di jalanan kota orang.
Mari kita bantu Abah Sulaiman agar bisa pulang dan berkumpul kembali dengan keluarganya. Sedekah dari Anda adalah harapan bagi Abah untuk memiliki masa tua yang lebih layak dan menjamin pendidikan kedua cucunya.
Mari sebarkan campaign ini dan bantu mereka dengan cara:
Klik “Donasi Sekarang";
Masukan nominal donasinya;
Pilih metode pembayaran;
Dapatkan laporan via email.
Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Fundraiser dan merupakan bagian dari program dan campaign utama yang berjudul Semua Berhak Nyaman

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hallo,Sobat Berdampak!
Setiap kebaikan yang diberikan, sekecil apa pun, selalu memiliki arti bagi mereka yang membutuhkan.
Melalui program The Power Of Kindness, Ayo Kita Peduli bersama Sobat Berdampak terus berupaya menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan kehidupan.
Pada kesempatan ini, bantuan telah disalurkan kepada penerima manfaat berupa santunan tunai,kebutuhan pokok, dan tambahan modal usahasebagai bentuk dukungan dan kepedulian untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka.
Kebaikan yang Sobat Berdampak titipkan tidak hanya hadir dalam bentuk bantuan, tetapi juga menjadi penguat semangat, harapan, dan kebahagiaan bagi para penerima manfaat.
Terima kasih telah menjadi bagian dari gerakan kebaikan ini. Semoga setiap langkah yang kita lakukan bersama dapat terus menghadirkan manfaat dan menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan.
Karena pada akhirnya, kebaikan yang dibagikan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali menjadi keberkahan.
Salam hangat,
Ayo Kita Peduli