Diperbarui 31 October 2026, 16:21 WIB
Di bawah terik matahari kota yang menyengat dan deru bising kendaraan, sosok Abah Sunardi (58 tahun) tampak perlahan mendorong roda di kedua sisinya. Pria tegar ini harus berjuang keras menyusuri jalanan dengan menggunakan kursi roda akibat serangan penyakit stroke yang melumpuhkan sebagian tubuhnya.
Tangan kirinya tak lagi sekuat dulu, dan setiap kali ia mengayuh roda, rasa linu serta nyeri hebat di kakinya membuat Abah harus berhenti sejenak hanya untuk menarik napas panjang. Namun, Abah tak punya pilihan. Tisu-tisu kecil yang bertumpuk di pangkuannya adalah satu-satunya tumpuan hidup keluarga kecilnya saat ini.
Sebelum musibah stroke menyerang, Abah Sunardi adalah seorang sopir angkot dan sang istri berjualan nasi kuning di depan rumah. Kehidupan mereka sederhana namun hangat. Namun sejak Abah terserang stroke dan tak sanggup mengemudi lagi, usaha nasi kuning terpaksa gulut tikar karena modalnya habis terpakai untuk berobat.
Kini, Abah tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana bersama istri dan anak bungsunya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sewa kontrakan sebesar Rp1.000.000 per bulan menjadi beban yang amat berat di pundak ringkih Abah. Dari hasil berjualan tisu keliling seharian, Abah hanya mendapatkan sekitar Rp50.000 per hari.
Dengan penuh ketelitian, uang itu disisihkan: Rp20.000 dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk sewa kontrakan, dan Rp30.000 sisanya digunakan untuk membeli makan sehari-hari serta modal membeli tisu kembali.
Duka kian menghujat hati Abah saat anak-anaknya yang sudah menikah tak pernah lagi memberi kabar ataupun menjenguknya. Hati Abah perih menahan rindu, namun beliau memilih bangkit dan tidak menyerah demi anak bungsunya.
Di balik sakit stroke dan tubuhnya yang kian lemah, Abah Sunardi menyimpan dua doa besar yang selalu beliau panjatkan di setiap sujudnya. Beliau sangat ingin sembuh dari penyakit stroke agar bisa kembali berjalan normal menafkahi keluarga.
Namun jika takdir berkata lain, Abah dan istrinya sangat merindukan modal usaha kecil untuk berjualan di rumah. Dengan adanya modal usaha mandiri, Abah dan istri bisa mencari rezeki bersama tanpa harus membahayakan nyawa dan menahan sakit stroke di jalanan.
#OrangBaik, keteguhan Abah Sunardi sebagai seorang ayah dan suami adalah bukti nyata dari perjuangan tanpa tepi. Mari kita bantu ringankan beban di pundak Abah agar masa penyembuhannya lebih layak dan keluarganya memiliki tempat berlindung yang aman. Kami dari Yayasan Jejak Binar Harapan mengajak Anda semua untuk bersama-sama mengulurkan tangan, membantu biaya pengobatan stroke Abah Sunardi, sewa kontrakan, modal usaha rumahan mandiri, serta kebutuhan sekolah anak bungsunya.
Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.
Ajak teman dan keluargamu ikut membantu lewat halaman galang dana milikmu sendiri.
Gabung