Abah Tamin berusia 70 tahun dan hidup sendirian di sebuah rumah reyot yang hampir roboh. Setiap malam, ia hanya bisa berdoa agar atap dan dinding rapuh itu tidak runtuh menimpanya. Saat hujan dan angin datang, rasa takut selalu menghantui karena tak ada siapa pun yang bisa ia andalkan.

Sejak lahir, Abah hidup dengan kondisi difabel. Kaki dan tangannya tidak bisa berfungsi normal. Ia tidak pernah menikah dan kini menjalani hari-hari seorang diri, tanpa istri, tanpa anak, tanpa keluarga. Di usia yang seharusnya tenang, Abah justru terus bertahan dengan tubuh yang semakin lemah.

Untuk makan, Abah menganyam bambu menjadi tampah dengan tangan yang kaku dan sulit digerakkan. Satu tampah bisa dikerjakan berhari-hari, tapi saat terjual, harganya hanya sekitar lima ribu rupiah. Kadang Abah tetap memaksakan diri ke pasar meski kakinya sakit, dan pulang dengan penghasilan yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan harian.

Abah sebenarnya hanya ingin hidup lebih aman dan tenang. Ia berharap bisa memperbaiki rumahnya dan memiliki usaha kecil di rumah agar tak perlu lagi berjalan jauh menahan sakit. Insan Baik, bantuan kita bisa menjadi harapan baru bagi Abah Tamin agar masa tuanya tidak diisi rasa takut dan kesepian, tapi sedikit rasa aman dan ketenangan.