Diperbarui 06 June 2026, 00:00 WIB
Abah Umrosa (63), seorang penjual ikan cupang keliling, tetap berjuang mencari nafkah di usia senjanya. Sejak 3 tahun terakhir, ia berjualan dari pagi hingga sore dengan penghasilan yang tidak menentu kadang Rp20.000–40.000, bahkan pernah hanya Rp1.000–2.000 atau tidak laku sama sekali. Demi keluarganya, Abah terus berjalan meski kondisi fisiknya menurun. Ia mengidap darah tinggi, vertigo, dan penglihatan yang semakin kabur, hingga kerap harus berhenti di pinggir jalan, bahkan pernah menabrak mobil karena tidak melihat dengan jelas.
Kondisi ekonomi keluarga Abah sangat memprihatinkan. Ia menjadi tulang punggung bagi istri dan dua anaknya yang belum bekerja. Untuk makan sehari-hari pun seringkali hanya seadanya tahu hancur, kangkung dengan garam, atau sekadar gehu. Motor tua yang digunakan untuk berjualan pun sudah tidak layak, sering mogok dan harus diikat dengan tali agar tetap bisa dipakai. Di tengah keterbatasan ini, Abah tetap memaksakan diri berjualan karena tidak ada sumber penghasilan lain, sementara kebutuhan hidup dan obat-obatan terus berjalan.
Kondisi ekonomi keluarga Abah sangat memprihatinkan. Ia menjadi tulang punggung bagi istri dan dua anaknya yang belum bekerja. Untuk makan sehari-hari pun seringkali hanya seadanya tahu hancur, kangkung dengan garam, atau sekadar gehu. Motor tua yang digunakan untuk berjualan pun sudah tidak layak, sering mogok dan harus diikat dengan tali agar tetap bisa dipakai. Di tengah keterbatasan ini, Abah tetap memaksakan diri berjualan karena tidak ada sumber penghasilan lain, sementara kebutuhan hidup dan obat-obatan terus berjalan.