Hanya 20 Ribu Sehari, Abah Utar (80) Berjuang Rawat Istri yang Sakit di Rumah yang Tak layak huni
Beliau Abah Utar (80), lansia pejuang keluarga yang dengan tubuh ringkihnya masih terus berusaha menghidupi sang istri.
Di usia yang tak lagi muda, Abah tetap melangkah. Setiap hari ia berjualan buah keliling—bukan miliknya sendiri, melainkan titipan orang lain. Dari hasil itu, Abah hanya membawa pulang sekitar 20 ribu rupiah per hari. Jumlah yang sangat terbatas, namun tetap ia syukuri demi bisa bertahan hidup bersama istrinya yang sering sakit-sakitan.

Langkah demi langkah ia tapaki, menahan lelah dan usia. Semua itu menjadi ikhtiar Abah, agar dapur tetap mengepul dan ada harapan untuk kesembuhan sang istri. Kini, Abah dan istrinya tinggal di sebuah rumah tua yang kondisinya sangat memprihatinkan. Dinding-dindingnya mulai rapuh, banyak bagian rumah yang sudah roboh. Atapnya pun penuh lubang, sehingga setiap kali hujan turun, air masuk begitu saja membasahi seisi rumah.

Bahkan, kamar mandi di rumah Abah sudah tidak layak digunakan—air pun sulit didapatkan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung, justru menyimpan kekhawatiran besar. Abah hidup dengan rasa cemas, takut jika suatu saat rumah itu benar-benar ambruk.

Sahabat, di usia senjanya Abah Utar masih harus berjuang begitu keras—bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk istrinya tercinta. Mari kita ulurkan tangan, hadirkan harapan untuk Abah Utar dan istrinya. Sedikit bantuan dari kita, bisa menjadi sangat berarti bagi mereka.