Abah Yaya Berjuang Bersama Anak Demi Bertahan Hidup
Abah Yaya Berjuang Bersama Anak Demi Bertahan Hidup

Abah Yaya Berjuang Bersama Anak Demi Bertahan Hidup

Rp 0
terkumpul dari Rp 30.000.000
Donatur
0
Tercapai
0%
Sisa waktu
32 hari

Diperbarui 26 October 2026, 15:08 WIB

Penggalang Dana

Global Sedekah Movement
Lembaga resmi terverifikasi

Cerita

26 October 2026
Kerjasama campaign iklan berbayar
Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Setiap pagi, di sebuah rumah kecil yang rapuh dan nyaris roboh, Abah Yaya (68) mulai menjalani perjuangan hariannya. Seorang lansia renta yang masih harus berkeliling menjual batagor milik orang lain demi bisa bertahan hidup bersama anak semata wayangnya, Mang Didin, yang sudah berusia 45 tahun dan mengalami gangguan mental sejak lahir.

Mereka tinggal hanya berdua. Istri Abah Yaya telah meninggal tujuh tahun lalu, meninggalkan Abah dan Mang Didin tanpa siapapun lagi yang bisa mereka andalkan. 

Kini, seluruh hidup Mang Didin hanya bertumpu pada sang ayah yang semakin menua dan melemah.

Setiap hari, Mang Didin membantu sebisanya. Dengan kondisi mental yang tidak stabil, ia memulung barang bekas di sekitar kampung. 

Namun hasilnya sangat kecil. Rongsokan yang dikumpulkannya bahkan baru bisa ditukar seminggu sekali, karena harganya hanya Rp1.500 per kilogram. Harus banyak dulu baru ada uang yang bisa mereka gunakan.

Sementara itu, penghasilan Abah dari berjualan batagor pun jauh dari cukup. Dalam sehari, kadang hanya membawa pulang Rp25.000 sampai Rp50.000  itu pun kalau dagangannya habis. Pendapatan tersebut sudah dipotong oleh pemilik gerobak dan bahan bakunya. “Asal bisa buat makan aja udah syukur “ kata Abah.

Rumah yang mereka tinggali pun sangat memprihatinkan. Kecil, bocor di sana-sini, dan dipenuhi tumpukan rongsokan Mang Didin yang disimpan di dapur karena tak ada tempat lain. Kondisi itu membuat rumah penuh tikus, kecoa, dan hewan-hewan lainnya, membuat hidup mereka semakin tidak layak.

Di balik senyumnya yang tampak tegar, Abah menyimpan ketakutan yang dalam. “Kalau Abah sudah nggak ada… Didin gimana? Siapa yang ngurus dia?” ucap Abah Yaya. 

Terkadang, untuk mengisi perut, mereka hanya mampu makan dengan sambal saja. Tidak ada lauk, tidak ada sayur. Yang penting ada yang bisa dimakan hari itu.

Di usia senjanya, Abah Yaya masih harus memikul beban besar yang tak semua orang sanggup menanggung. Namun demi Mang Didin, ia terus bertahan, melawan rasa lelah, sakit, dan usia yang tak lagi muda.

Sahabat Kebaikan, maukah bersama-sama membantu Abah Yaya dan Mang Didin  agar bisa hidup lebih layak? Sedikit bantuan dari kamu sangat berarti untuk kebutuhan makan sehari-hari, perbaikan rumah, hingga kebutuhan Mang Didin yang membutuhkan perhatian khusus. Yuk, ulurkan tangan terbaikmu hari ini sampai mereka tidak lagi berjuang sendirian.


Disclaimer : Dana yang terkumpul akan digunakan untuk  Pemenuhan kebutuhan harian Abah Yaya dan mang Didin , dan apabila terdapat kelebihan dana akan digunakan untuk pemenuhan Program bantuan Bumi Syam serta untuk para penerima manfaat lain nya yang berada dibawah naungan Yayasan Global Sedekah Movement.

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.

Jadi #SirkelBaik

Ajak teman dan keluargamu ikut membantu lewat halaman galang dana milikmu sendiri.

Gabung