Di saat banyak orang seusianya memilih beristirahat, Abah Omod justru masih harus bertahan di jalanan… Usianya kini 76 tahun. Namun setiap hari, sehabis subuh, Abah sudah berangkat dari rumah. Dengan ongkos Rp20.000, ia menaiki bus menuju Jalan Braga untuk berjualan tisu.
Abah berjalan dari satu titik ke titik lain, menawarkan dagangannya dengan harapan ada yang membeli. Bukan pekerjaan yang ringan, apalagi dengan kondisi tubuh yang sudah renta. Penghasilannya pun tidak menentu.

Namun kini, rata-rata ia hanya mendapatkan sekitar Rp30.000 per hari, bahkan seringkali kurang. Pernah suatu hari, Abah hanya terjual sedikit tissue, Tak ada keuntungan yang tersisa, karena habis untuk ongkos pulang pergi. Artinya… hari itu Abah pulang tanpa membawa apa-apa untuk keluarganya.
Padahal di rumah, ada 4 orang yang harus ia tanggung. Dua anaknya masih sekolah yang satu di SMP kelas 9, dan yang bungsu sebentar lagi harus masuk SMP. Sementara satu anak lainnya harus berjuang dengan penyakit epilepsi. Setiap bulan, anaknya membutuhkan obat sekitar Rp250.000. Namun karena keterbatasan ekonomi, Abah belum mampu membelinya secara rutin.

Sudah berbulan-bulan… anaknya bertahan tanpa pengobatan yang layak. Kesulitan pun terus bertambah. Anaknya yang kelas 9 belum bisa mengambil ijazah karena terkendala biaya sekitar Rp300–400 ribu. Dan untuk si bungsu, dibutuhkan sekitar Rp1 juta agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.
Di sisi lain, Abah sendiri juga sedang berjuang dengan kesehatannya. Ia mengidap vertigo yang kerap kambuh saat berjualan. Bahkan pernah, Abah tiba-tiba terjatuh pusing di pinggir jalan. Ia hanya bisa berbaring menahan sakit… sebelum akhirnya pulang perlahan dengan kondisi lemah. Tak hanya itu, penglihatan Abah pun sudah tidak normal.
Salah satu matanya mengalami gangguan dan hampir tidak bisa melihat. Sebenarnya masih ada kemungkinan untuk berobat, Namun Abah memilih menunda. Karena bagi Abah, mencari nafkah untuk keluarga jauh lebih penting.

Di rumah, kondisinya pun memprihatinkan. Atap banyak yang bocor, pintu sudah rusak, Istrinya sesekali membantu dengan bekerja sebagai tukang cuci ubi, namun penghasilannya hanya gak seberapa per panggilan, itu pun hanya 1–2 kali dalam seminggu. Semua perjuangan ini Abah lakukan, karena ia tidak memiliki pilihan lain. Berjualan di jalan menjadi satu-satunya harapan agar keluarganya tetap bisa makan dan anak-anaknya tetap bisa melanjutkan hidup.
Di usia yang sudah sangat senja, Abah Omod masih bertahan, masih berjuang, dan masih menyimpan harapan sederhana untuk keluarganya. kebahagiaan terbesar di sisa hidupnya adalah melihat anak-anaknya hidup lebih baik darinya. Kita bantu abah omod bareng-bareng yuk supaya hidup lebih layak disisa usianya.
Yuk ulurkan tangan terbaikmu dengan berdonasi sekarang.
Semoga setiap kebaikan yang kita berikan menjadi amal yang terus mengalir.
Klik Donasi Sekarang;
Masukan nominal donasinya;
Pilih metode pembayaran;
Dapatkan laporan via email.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

*Page ini merupakanbagian dari program dan campaign utama yang berjudul Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama