Diperbarui 22 October 2026, 03:00 WIB
Setiap hari, kita bisa melihat bapak-bapak berseragam porter di stasiun. Mereka siap membantu mengangkat koper dan barang bawaan penumpang, meski beratnya bukan main. Tapi siapa sangka, di balik seragam itu, ada perjuangan hidup yang nggak mudah.

Mereka bukan pegawai yang menerima gaji tetap setiap bulan. Penghasilan mereka bergantung pada penumpang yang membutuhkan jasa mereka. Bahkan, mereka nggak mematok harga. Seberat apa pun barang yang dibawa, mereka hanya menerima bayaran seikhlasnya. Salah satunya Abah Amin (66 tahun), yang sudah 25 tahun bekerja sebagai porter di Stasiun Kiaracondong. Setiap hari, Abah bekerja dari pukul 5 pagi sampai 5 sore. Meski sudah puluhan tahun bekerja, penghasilannya rata-rata hanya sekitar Rp50.000 sehari, itu pun belum dipotong biaya makan.

Di usia yang seharusnya bisa lebih banyak beristirahat, Abah masih harus banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, masih ada tunggakan biaya sekolah anaknya sebesar Rp1,5 juta yang belum bisa dilunasi. Ada juga Abah Undang (61 tahun), yang sudah 5 tahun bekerja sebagai porter. Di tengah keterbatasan penglihatannya sejak kecil, Abah tetap berusaha mencari nafkah untuk keluarganya.

Abah bisa bekerja dari pukul 5 pagi sampai 11 malam. Namun, penghasilannya terkadang hanya Rp20.000 sehari. Kalau uangnya nggak cukup untuk membeli beras, Abah terpaksa berutang ke warung. Belum lagi biaya kontrakan yang sudah menunggak selama 2 bulan dan kebutuhan anak-anaknya yang masih harus dipenuhi.

Bayangkan, mereka terus menawarkan tenaga yang tersisa demi membantu orang lain membawa barang, sementara kebutuhan keluarga sendiri masih sering kesulitan untuk dipenuhi. Mereka nggak pernah tahu hari ini akan dapat berapa. Ada kalanya penumpang ramai, tapi ada juga saat mereka harus menunggu lama tanpa membawa pulang penghasilan yang cukup.

Buat kita, mungkin membayar jasa porter terlihat seperti hal kecil. Tapi buat mereka, uang itu bisa menjadi harapan untuk membawa pulang beras, membayar kontrakan, atau memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Sayangnya, tenaga yang mereka keluarkan belum tentu sebanding dengan penghasilan yang didapat. Di usia yang semakin menua, mereka masih harus berdiri, berjalan, dan mengangkat barang demi menyambung hidup. Bukan karena semuanya mudah, tapi karena kebutuhan keluarga nggak bisa menunggu.

Hari ini, kita bisa ikut meringankan beban para porter yang selama ini membantu banyak orang, tapi sering kali harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Yuk, sisihkan sedikit rezeki kita untuk membantu Abah Amin, Abah Undang, dan para porter lainnya agar bisa memenuhi kebutuhan pokok, melunasi tunggakan, serta punya kesempatan membangun usaha yang lebih layak.

Nggak harus menunggu punya banyak untuk bisa membantu. Sedikit dari kita, bisa jadi sangat berarti bagi mereka. Mari bantu para porter menjalani hari tua dengan lebih layak. Karena di balik seragam yang mereka kenakan, ada keluarga yang berharap mereka bisa pulang membawa cukup rezeki untuk hari esok
Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.