Abah Komar adalah seorang kakek berusia 68 tahun yang setiap hari berjuang mencari nafkah dengan berjualan es krim keliling menggunakan sepeda tuanya.
Dari pagi hingga sore, Abah menyusuri jalan demi jalan, meski tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Penghasilan yang Abah dapatkan pun sangat tidak menentu, hanya sekitar Rp30.000–Rp50.000 per hari. Itu pun bukan penghasilan bersih sepenuhnya, karena sebagian masih harus disetorkan kepada pemilik depo es krim.

Di usia yang seharusnya menikmati masa tua, Abah Komar justru masih harus bertarung dengan kerasnya hidup. Abah Komar hidup sendiri di perantauan karena istrinya tinggal di kampung halaman di Tasikmalaya. Rumah Abah di kampung masih berupa rumah panggung sederhana dengan dinding bilik bambu.
Dari penghasilan yang sangat minim itu, Abah harus membagi untuk kebutuhan pribadinya, membayar kontrakan setiap bulan, dan tetap mengirim uang untuk istrinya di kampung. Abah memiliki dua orang anak yang sudah berumah tangga, namun Abah memilih tidak bergantung pada mereka karena kondisi ekonomi anak-anaknya juga pas-pasan. Menurut Abah, selama masih diberi kesehatan, mencari nafkah adalah kewajiban seorang suami.

Seiring bertambahnya usia, kondisi fisik Abah semakin menurun. Kini Abah sudah tidak kuat lagi mengayuh sepeda, sehingga hanya bisa mendorongnya saat berjualan. Meski demikian, Abah tidak pernah libur, karena satu hari tidak berjualan berarti satu hari tanpa penghasilan untuk istrinya. Abah sering mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri agar bisa memenuhi kewajiban mengirim uang ke kampung. Hidup hemat menjadi pilihan pahit yang harus Abah jalani setiap hari.

Di balik perjuangannya, Abah Komar juga kerap mengalami hal menyedihkan. Pernah suatu ketika Abah ditipu oleh orang tak bertanggung jawab yang berpura-pura bertanya jalan dan mengajaknya berbincang di dalam mobil, hingga tanpa disadari dompet berisi uang hasil jualannya raib.

Abah juga beberapa kali menerima uang palsu dengan nominal besar yang baru diketahui saat hendak mengirim uang ke istrinya. Harapan Abah sangat sederhana: jika kelak memiliki modal dan rezeki lebih, Abah ingin membuka warung kecil di rumahnya di Tasik agar bisa mencari nafkah tanpa harus jauh dari sang istri, dan menjalani sisa hidup dengan lebih tenang.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakanbagian dari program dan campaign utama yang berjudul Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama
