“Ya Allah… ambil dulu anak saya, baru saya. Saya takut tak ada yang rawat dia nanti…”
Pernah dalam doanya, Bu Uli berkata dengan hati hancur, Bukan karena tak sayang. Tapi karena terlalu sayang. Tangis seorang ibu itu bernama Bu Uli. Sehari setelah lahir, Benua kecil mengalami kejang hebat. Pasokan oksigen ke otaknya kurang. Sejak saat itu hidupnya berbeda.
Di usia 1,5 tahun, tubuhnya mulai lumpuh. Kedua kakinya membengkok dan tak bisa digerakkan. Kejangnya semakin sering, bahkan bisa sampai 12 kali dalam sehari. Kini Banua berusia 14 tahun. Di usia yang seharusnya duduk di bangku SMP, ia hanya bisa terbaring lemah di atas kasur kusam. Ia belum bisa bicara. Jika lapar atau ingin buang air, ia hanya bisa berteriak.
Setiap kali kejang datang dan wajahnya membiru, hati Bu Uli ikut hancur Suaminya telah pergi. Ia membesarkan Benua dan kakaknya seorang diri di rumah kontrakan Rp900 ribu per bulan. Untuk bertahan hidup, Bu Uli berjualan jajanan kecil di depan rumah. Dari pagi hingga sore. Penghasilannya sekitar Rp30 ribu per hari. Sudah 7 tahun Benua tidak pernah terapi. BPJS pun menunggak selama 2 tahun. Obat kejang dan vitamin tak lagi terbeli. Sahabat Kebaikan,Benua masih punya harapan. Terapi bisa kembali dilakukan. Obat bisa kembali dibeli. Warung kecil Bu Uli bisa ditambah modalnya. Sedikit bantuan dari kita hari ini, bisa menghentikan tangis seorang ibu yang selama ini menangis diam-diam memikirkan masa depan anaknya. Mari kita ringankan langkah Bu Uli. Agar ia tak lagi merasa sendirian dalam perjuangan ini.
