Diabetes Menggerogoti Tubuhnya, Abah Sodikin Tetap Berjualan Demi Bertahan Hidup

Diabetes Menggerogoti Tubuhnya, Abah Sodikin Tetap Berjualan Demi Bertahan Hidup

Rp 0
terkumpul dari Rp 30.000.000
0 Donatur
34 hari lagi
Donasi Sekarang!
Terakhir diperbarui pada 07 August 2026 03:00 WIB

Penggalang Dana

Ayo Kita Peduli

Lembaga Resmi Terverifikasi
Menggalang Dana Untuk:
Bantu Abah Sodikin! Lansia Penjual Kerupuk Ini Berjuang Meski Diabetes Kian Parah

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

06 August 2026

"Selama masih bisa berusaha, saya tidak ingin meminta-minta." Kalimat sederhana itu diucapkan Abah Sodikin, seorang penjual kerupuk Kutu Mayang yang setiap hari berjualan di depan Masjid Al-Barokah, Cianjur. Dari subuh hingga sore, Abah berjalan dengan bantuan tongkat sambil menawarkan dagangannya kepada siapa saja yang lewat. Penghasilannya tidak menentu. Jika sedang ramai, Abah hanya membawa pulang sekitar Rp20.000 hingga Rp50.000 dalam sehari. Bahkan tak jarang hasil jualannya habis hanya untuk ongkos pulang sebesar Rp10.000. Sebelum berjualan kerupuk, Abah pernah berjualan mi ayam keliling bersama istrinya. Kini, di usia senja, harapannya masih sama: suatu hari nanti bisa kembali membuka usaha mi ayam. Abah ingin memasak sendiri, sementara anaknya membantu berjualan. Perjalanan hidup Abah tidak mudah. Saat ini beliau tinggal bersama istri dan dua orang anak. Salah satu anaknya masih duduk di bangku SMP, sementara anak lainnya terpaksa mengubur impian untuk melanjutkan ke SMA karena keterbatasan biaya dan memilih membantu orang tua mencari nafkah. Dari seluruh anak-anaknya, hanya satu yang bekerja di Tasikmalaya yang masih rutin mengunjungi dan membantu. Jika sedang memiliki rezeki lebih, sang anak terkadang memberikan sekitar Rp500.000 untuk membantu kebutuhan keluarga. Rumah sederhana yang ditempati Abah memang pernah direnovasi pemerintah setelah terdampak gempa. Namun hingga kini, masih terdapat beberapa titik atap yang bocor dan membutuhkan perbaikan. Di balik perjuangannya mencari nafkah, Abah juga harus melawan penyakit diabetes yang sudah cukup parah. Penglihatannya mulai kabur, luka di tubuhnya sulit sembuh, dan beberapa waktu lalu beliau sempat terjatuh setelah selesai salat di masjid hingga kini harus berjalan menggunakan tongkat. Karena keterbatasan biaya, Abah sudah jarang membeli obat. Sesekali beliau masih dapat memeriksakan kondisi kesehatannya melalui BPJS, tetapi kebutuhan sehari-hari sering kali lebih mendesak daripada pengobatan. Agar tetap kuat berjualan, Abah bahkan terpaksa berutang sekitar Rp250.000 di warung depan masjid hanya untuk membeli lontong atau gorengan sebagai pengganjal lapar. Pernah pula, di rumah, Abah dan keluarganya hanya makan dengan garam karena tidak ada lauk

Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.