Permana masih sangat muda. Saat ini ia baru duduk di bangku kelas 1 SMP. Namun sejak kelas 4 SD, ia sudah terbiasa mencari uang sendiri dengan berjualan tisu keliling.

Setiap hari, sepulang sekolah, Permana tidak langsung pulang untuk beristirahat seperti anak-anak lain. Ia mengambil tisu dari seseorang untuk dijual kembali, lalu berjalan kaki menuju alun-alun kota. Dari sore hingga pukul 9 malam, Permana menawarkan satu per satu tisunya kepada orang-orang yang lewat.
Keuntungan yang ia dapat hanya sekitar Rp2.000 dari setiap tisu yang terjual. Itupun tidak selalu laku. Seringkali orang-orang hanya lewat begitu saja tanpa menghiraukan tawaran kecil dari tangan Permana.

Dalam sehari, Permana harus berjalan kaki sekitar 10 kilometer pulang pergi dari rumahnya menuju tempat ia berjualan. Hujan ataupun panas tidak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti.
Ayahnya bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Ibunya seorang ibu rumah tangga yang berjualan gorengan keliling di sekitar rumah.
Seringkali uang hasil jualan tisu itu Permana berikan kepada ibunya untuk membantu kebutuhan rumah. Kadang juga ia sisihkan sedikit untuk adik-adiknya, sekadar agar mereka bisa membeli jajanan seperti anak-anak lainnya.

Namun hidup Permana tidak selalu mudah. Saat masih SD, ia pernah dibully oleh teman-temannya karena berjualan tisu, bahkan sampai dipukuli. Meski begitu, Permana tidak berhenti. Ia tetap memilih berjalan, tetap memilih berjualan.
Ada hari-hari dimana tubuh kecilnya tidak kuat menahan lelah. Permana pernah ketiduran di tengah berjualan karena kelelahan setelah berjalan jauh dan berkeliling sejak sore.
Di rumahnya, keadaan juga tidak selalu baik-baik saja. Permana dan keluarganya bahkan sering makan hanya dengan nasi dan garam karena keterbatasan yang mereka miliki.

Di usia yang seharusnya dipenuhi dengan bermain dan belajar, Permana justru harus memikul beban kehidupan lebih awal.
Hari ini, kita mungkin tidak bisa menghapus semua kesulitan yang dialami Permana. Tetapi dengan sedikit kepedulian, kita bisa membantu meringankan langkah kecilnya.
Bantuan dari kita dapat membantu kebutuhan hidup keluarganya, pendidikan mereka, dan memberi harapan agar Permana tidak harus terus berjuang sendirian di jalanan.
Sobat Berdampak! Mari wujudkan Ramadan yang penuh dengan kebaikan melalui campaign dan program Semua Berhak Dirayakan. Kalian dapat berpartisipasi dengan menyebarkan campaign ini dan berdonasi dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.