Diperbarui 27 October 2026, 15:00 WIB
"Bertahan Hidup Mbah Emah & Mbah Rasman difabel yang Menggantungkan Nyawa dari Botol Bekas"
Miris dan sedih kalo membayangkan 2 lansia ini. Di usia yang sudah menyentuh hampir satu abad, Mbah Emah dan Mbah Rasman justru harus bertaruh nyawa setiap hari di sebuah rumah kecil berlorong sempit yang amat kumuh. Di dalam rumah yang pengap dan berimpitan langsung dengan tumpukan rongsokan yang berantakan, mereka memisahkan hasil rongsokan agar bisa di daur ulang dan di jual kembali.
Lebih Kasihannya lagi, tubuh Mbah Rasman yang difabel tak lagi mampu berdiri tegak tanpa topangan kayu, sementara Mbah Emah dengan sisa-sisa tenaganya terus menuntun, untuk mendampingi Mbah Emah mencari rongsok di jalan setiap harinya.
“Saya kadang di jalan pas lagi nyari rongsok pernah sampe jatoh, karna kesamber angin mobil gede, untungnya di bantu tukang ojol buat bangun lagi” ucap mbah Emah membayangkan betapa perihnya berjuang mencari rongsok di jalan dengan tubuh yang tak lagi kuat.
Demi sesuap nasi, Mbah Emah dan Mbah Rasman terpaksa menyusuri jalanan terik matahari menjadi pemulung botol plastik bekas. Tak jarang mereka harus menahan perut yang kelaparan di tengah jalan. Penghasilan mereka sangat jauh dari kata cukup dan sama sekali tidak menentu, dalam sehari mereka terkadang hanya dapat mengumpulkan botol bekas sekitar 2 kg rongsokan, sehingga membawa pulang cuma Rp7.000 perhari.
“kadang saya 2 minggu Cuma bisa ngumpulin uang 110rb kadang bisa kurang jadi bingung buat makan” ucap mbah Emah yang sudah pasrah dengan hidupnya.
Dalam waktu 2 minggu, uang yang berhasil dikumpulkan terkadang hanya mencapai Rp110.000—sebuah angka yang mustahil untuk memenuhi kebutuhan hidup dua nyawa. Jangankan untuk makan yang layak, untuk mengisi perut pun mereka sering kelaparan di tengah jalan. Tak jarang, piring makan mereka hanya berisi secentong nasi yang disiram air garam dengan beberapa irisan timun mentah sebagai penawar rasa lapar.
Harapan mereka sangat sederhana namun begitu mengiris hati: hanya ingin bisa makan dengan layak tanpa harus menahan lapar yang mencekik setiap harinya, serta bisa membeli kebutuhan peratan mbah Rasman yang seorang difabel.
Melalui sahabat Ananta, dana yang terkumpul nantinya akan disalurkan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan pokok (sembako) Mbah Emah dan Mbah Rasman, biaya perawatan kakek, hingga perbaikan kelayakan tempat tinggal mereka agar tidak lagi berdesakan di ruangan pengap dan rapuh.
Melalui galang dana ini kami mengajak semua sahabat Ananta, mari kita ulurkan tangan dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk meringankan penderitaan Mbah Emah Dan Mbah Rasman. Sedikit bantuan dari Anda adalah napas kehidupan dan secercah harapan bagi mereka yang sedang berada di titik terendah ini

Disclaimer: Informasi, opini, dan foto di halaman galang dana ini milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah atau kecurigaan, silakan laporkan kepada kami.
Ajak teman dan keluargamu ikut membantu lewat halaman galang dana milikmu sendiri.
Gabung