Anak 19 Tahun Ini Menunda Mimpi Jadi TNI/Polri Demi Merawat Ayah yang Terbaring Sakit Di usia 19 tahun, Hamid seharusnya sedang mengejar masa depan dan meraih cita-citanya. Namun hidup berkata lain. Hamid harus memikul beban yang bahkan jarang dirasakan oleh orang seusianya.
Ayahnya, Pak Ferzy (60), kini terbaring lemah setelah divonis tumor ganas di paru-paru. Kondisinya semakin memburuk dalam 3 bulan terakhir. Sejak saat itu, Hamid harus menggantikan peran segalanya—menjadi anak, perawat, sekaligus tulang punggung keluarga.
Ibunya terpaksa bekerja sebagai ART dan harus menginap, membuat Hamid sendirian merawat sang ayah di rumah.
Hampir 24 jam waktunya habis untuk menjaga ayahnya. Mulai dari memandikan, menyuapi makan, hingga mengganti popok. Di sela-sela itu, Hamid tetap harus berjualan demi menyambung hidup.
Namun penghasilannya tak seberapa, hanya sekitar Rp50.000 per hari. Bahkan tak jarang dagangannya dihutangi dan tidak dibayar.
Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi untuk biaya pengobatan.
Padahal, ayah Hamid sangat membutuhkan perawatan medis. Namun karena tunggakan BPJS yang mencapai sekitar Rp20 juta dan biaya rumah sakit yang juga membengkak hingga puluhan juta rupiah, Hamid terpaksa membawa ayahnya pulang dan merawatnya seadanya di rumah.
Di tengah semua itu, ada mimpi besar yang harus Hamid kubur sementara waktu. Sejak dulu, Hamid bercita-cita menjadi TNI/Polri. Ia sudah mencoba mengikuti tes selama 2 tahun berturut-turut. Bahkan ayahnya selalu setia menemani dan menyemangatinya. Namun tahun ini, Hamid harus mengikhlaskan mimpinya. “Kalau saya ikut tes, siapa yang jaga Abah…” ucapnya lirih. Bukan karena menyerah, tapi karena memilih berbakti. Bahkan motor hasil kerja kerasnya selama sekolah pun terpaksa dijual demi bertahan hidup.
Adik-adiknya kini harus mondok karena keterbatasan biaya, membuat Hamid semakin merasa bertanggung jawab untuk tetap kuat.
Sahabat baik, di saat banyak dari kita masih bisa mengeluh, Hamid justru terus berjuang tanpa henti.
Ia hanya ingin satu hal: melihat ayahnya kembali mendapatkan pengobatan yang layak… dan suatu hari nanti, bisa kembali mengejar cita-citanya.
Mari kita bantu Hamid.