Pagi hari, saat anak-anaknya berangkat sekolah, Ibu Hafinah (40) mulai berjalan menyusuri jalanan.
Di tangannya hanya karung besar… tempat ia mengumpulkan botol plastik dan kardus bekas.
Sejak suaminya meninggal karena penyakit jantung, Ibu Hafinah harus membesarkan 4 anaknya seorang diri.

Seharian memulung, hasilnya tak seberapa.
Bahkan sebulan menjual rongsokan, ia hanya membawa pulang sekitar 300 ribu rupiah.
Padahal di rumah ada empat anak yang menunggu.
Dua masih sekolah, satu akan segera masuk sekolah, dan si bungsu masih butuh susu setiap hari.

Sering kali uang yang ada hanya cukup untuk membeli beras.
Susu untuk anak bungsunya menjadi barang mahal yang sulit dijangkau.
Beberapa kali Ibu Hafinah hanya berhenti di depan toko… melihat-lihat susu dari luar.
Bukan karena tidak ingin membeli, tapi karena ia memang belum mampu. 💔

Meski tubuhnya mulai dipenuhi luka karena jamur di kulit, Ibu Hafinah tetap memulung setiap hari.
Satu harapannya sederhana:
Anak-anaknya bisa terus sekolah dan tidak merasakan hidup sekeras dirinya.
Namun tanpa bantuan, anak-anaknya terancam putus sekolah.
Yuk, bantu ringankan perjuangan Ibu Hafinah