"Gapapa saya tidur sama ayam, soalnya kalo disimpen diluar suka ilang...
Sehari-hari, beliau hanya ditemani ayam-ayam peliharaannyaDengan tubuh yang sudah bungkuk dimakan usia, Mbah Lakamiri tetap bersemangat memberi makan ayam-ayam itu setiap pagi dan sore. Ayam-ayam inilah satu-satunya harta sekaligus sumber penghasilan beliau.

Namun, penghasilannya tidak menentu. Mbah Lakamiri baru bisa mendapat uang ketika ayamnya sudah besar untuk dijual, biasanya hanya sebulan sekali. Uang yang didapat pun hanya cukup untuk sekedar makan ala kadarnya.
Karena tidak punya kandang, ayam-ayam itu tinggal bersama Mbah Lakamiri di dalam rumahnya. Makan, tidur, bahkan kotoran ayam pun ada di dalam rumah. Meski begitu, beliau tetap bersyukur karena hanya itulah yang beliau punya.
“Kalau ayamnya sudah laku, alhamdulillah bisa buat makan. Kalau belum, ya sabar saja, Nak…” ucap beliau dengan suara lirih.

Kini, di usia senja dengan tubuh renta dan bungkuk, Mbah Lakamiri masih terus berusaha bertahan hidup. Ia tidak meminta lebih, hanya berharap bisa menjalani hari-harinya dengan layak, tenang, dan tidak lagi sendiri dalam kesusahan.
Mari ulurkan tangan kita untuk membantu Mbah Lakamiri. Sekecil apapun bantuan kita, bisa menjadi cahaya harapan di sisa hidup beliau.
