Disaat Orang lain sibuk kuliah, nongkrong sama teman, atau ngejar cita-citanya. Ogi justru harus berjuang untuk bisa terus menyambung Hidup dengan KETERBATASAANNYA. Setiap hari, Ogi hidup dengan rasa sesak yang bisa datang kapan aja. Bahkan buat duduk terlalu lama atau jalan sedikit lebih jauh aja, napasnya bisa langsung habis.

Semua ini berawal saat Ogi masih berumur 7 tahun. Waktu itu Ogi jatuh dari tangga. Karena keterbatasan biaya dan kurangnya penanganan, Ogi gak sempat dibawa berobat. Awalnya memang gak kelihatan apa-apa. Tapi beberapa tahun kemudian, tepat saat duduk di bangku SMP, tulang belakang Ogi mulai berubah. Sedikit demi sedikit... Semakin bengkok... Sampai akhirnya sekarang bentuk tulang belakangnya melengkung seperti huruf C. Tulang itu terus menekan paru-parunya. Akibatnya, Ogi sering sesak napas, nyeri hebat, susah bicara saat kambuh, bahkan beberapa kali hampir pingsan.

Belum selesai sampai di situ... Karena bentuk tubuhnya berbeda, Ogi juga sering jadi bahan ejekan teman-temannya. Bukannya mendapat semangat, Ogi justru harus menahan malu dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Akhirnya...Ogi terpaksa gak melanjutkan pendidikannya karena udah gak sanggup lagi bertahan.

Sejak kecil, Ogi hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Ayahnya pergi bahkan sebelum Ogi lahir. Sedangkan ibunya terpaksa meninggalkan Ogi karena gak sanggup memenuhi kebutuhan hidup. Sejak itu, Ogi berpindah-pindah diasuh oleh nenek, datuk, tante, hingga sekarang tinggal bersama pamannya. Pamannya lah yang kini menjadi satu-satunya tempat Ogi bersandar. Meski penghasilannya pas-pasan, beliau tetap berusaha mendampingi Ogi berobat ke sana kemari. Dokter menjelaskan kalau kondisi skoliosis Ogi sudah sangat berat. Satu-satunya harapan agar kondisinya bisa membaik adalah menjalani operasi pemasangan tulang titanium.

Sayangnya... Biaya yang dibutuhkan sangat besar. Selain tindakan operasi, masih ada biaya obat-obatan pascaoperasi, kontrol rutin, transportasi, dan kebutuhan hidup selama menjalani pengobatan. Sementara itu... Untuk bertahan hidup, Ogi hanya berjualan kerupuk dengan penghasilan sekitar Rp25.000–Rp40.000 sehari. Uang itu bahkan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Apalagi untuk mengejar biaya pengobatan yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Keinginan Ogi sederhana. Ia cuma ingin bisa bernapas tanpa kesakitan, Ingin bisa lanjutkan pendidikan, Ingin punya pekerjaan yang layak, Dan ingin hidup normal seperti teman-teman seusianya. Hari ini, harapan itu ada di tangan kita. Apapun bantuan yang kamu berikan, insyaAllah bisa menjadi jalan agar Ogi segera mendapatkan operasi yang sangat ia butuhkan. Mari bantu Ogi dengan cara : 1.Klik tombol “DONASI SEKARANG” 2.Masukkan nominal terbaik yang Sahabat mampu 3.Pilih metode pembayaran yang tersedia Semoga setiap rupiah yang kita sisihkan menjadi jalan rezeki untuk Ogi menjadi amal jariyah yang terus mengalir untuk kita.Aamiin