Saat orang lain berangkat kerja dengan kendaraan, Abdurohman justru harus memulai harinya dengan bertumpu pada sebuah tongkat. Sejak mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu, satu kakinya sudah tidak bisa lagi digunakan untuk berjalan.

Tapi mau bagaimana lagi...Perut tetap harus diisi. Hidup tetap harus dijalani. Dengan satu kaki yang masih kuat menopang tubuhnya, Abdurohman menyusuri jalanan dari pagi sampai sore. Puluhan kilometer ia tempuh setiap hari, keluar masuk gang, mengetuk harapan dari satu rumah ke rumah lainnya, sambil menawarkan roti goreng dan donat. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat. Tangan yang terus bertumpu pada tongkat sering terasa perih hingga lecet. Karena itu, Abdurohman selalu memakai sarung tangan agar rasa sakitnya sedikit berkurang, Sandal yang dipakainya pun bukan sandal biasa, Karena tak mampu membeli yang layak, ia merakit sendiri sandalnya agar lebih tebal dan kuat menahan panasnya aspal saat berjalan seharian.

Sayangnya... Semua perjuangan itu belum tentu berbuah hasil. Roti dan donat yang dibawanya bahkan bukan miliknya sendiri. Ia hanya membantu menjualkan dagangan orang lain, dengan upah cuma Rp500 untuk setiap roti yang laku.

Bayangkan...Kalau hari itu hanya terjual 20 roti, Abdurohman cuma membawa pulang Rp10.000. Bahkan sering kali dagangannya gak habis. Saat itu terjadi, ia memilih memakan roti yang belum laku dan hampir basi untuk mengganjal perut yang sejak pagi belum terisi. Bukan karena ingin, tapi karena memang gak ada uang lagi buat membeli makanan. Di rumah pun kondisinya gak jauh berbeda. Kalau sedang sepi pembeli, Abdurohman hanya sanggup membeli beras satu kilogram. Bahkan pernah cuma membawa pulang uang Rp5.000 untuk membeli beras seadanya agar tetap bisa makan hari itu.

Meski hidup seberat ini, Abdurohman masih punya satu mimpi yang terus ia simpan. Ia ingin punya kaki palsu. agar Ia bisa berjalan lebih mudah, gak terlalu kesakitan saat jualan, dan punya tenaga lebih banyak untuk mencari nafkah. Sayangnya, harga kaki palsu terasa sangat jauh dari kemampuannya. Upahnya yang Rp500 perak per roti bahkan hampir selalu habis untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Sampai hari ini, mimpi itu masih sebatas harapan.

Sahabat baik, Abdurohman gak pernah menyerah dengan keadaannya. Meski tubuhnya penuh keterbatasan, semangatnya untuk mencari nafkah gak pernah berhenti. Yuk, jadi bagian dari harapan baru untuk Abdurohman. Semoga setiap rupiah yang kita sisihkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir dan menjadi jalan Allah memudahkan setiap urusan kita. Aamiin.