DAGANGAN TAK LAKU!! Lansia Penjual Keranjang Ini Butuh Pertolongan Bawa Istrinya Berobat

DAGANGAN TAK LAKU!! Lansia Penjual Keranjang Ini Butuh Pertolongan Bawa Istrinya Berobat

Rp 0
terkumpul dari Rp 30.000.000
0 Donatur
41 hari lagi
BANTU PERJUANGAN ABAH!!
Terakhir diperbarui pada 09 September 2026 15:00 WIB

Penggalang Dana

Amal Baik Insani

Lembaga Resmi Terverifikasi

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

08 September 2026

"Bapak mah cuma pengen istri bisa sehat lagi, bisa punya modal biar bisa usaha yang lain dan nggak harus jualan keliling"



Di usia 62 tahun, ketika sebagian orang mungkin sudah ingin menikmati hari-hari dengan lebih tenang, Pak Dede justru masih harus berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjajakan keranjang anyaman sederhana yang dibuat dari bahan-bahan sisa, berharap ada yang membeli. Bukan untuk menumpuk keuntungan, bukan pula untuk memenuhi keinginan pribadi. Pak Dede hanya ingin memastikan istrinya, Bu Dedeh (55 tahun), tetap bisa makan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan suatu hari memiliki kesempatan untuk kembali menjalani pengobatan.


Sudah delapan tahun Bu Dedeh hidup dengan stroke. Penyakit itu perlahan mengubah kehidupan keluarga mereka. Tubuh yang dahulu bisa bergerak kini lebih banyak terbaring di tempat tidur. Dulu, Pak Dede masih berusaha membawa istrinya berobat ke rumah sakit. Namun, kondisi ekonomi yang semakin sulit membuat biaya pengobatan dan terapi tak lagi mampu mereka tanggung. Hampir lima tahun Bu Dedeh sudah tidak menjalani terapi. Jarak yang jauh dan keterbatasan biaya semakin membuat pengobatan sulit dilakukan.


Kini, rumah menjadi tempat perawatan sekaligus tempat mereka menggantungkan harapan. Rumah itu pun jauh dari kata nyaman. Bangunan kecil tersebut merupakan bagian dari rumah warisan keluarga yang tersisa setelah bagian lainnya dijual. Pak Dede dan Bu Dedeh kini hanya tinggal di ruang tengah dan sebuah bilik kecil. Di tengah keterbatasan itu, Pak Dede tetap memilih untuk berjuang. Setiap hari ia berjalan kaki berkilo-kilometer sambil membawa keranjang dagangannya. Panas matahari, rasa lelah, bahkan perjalanan pulang dengan tangan kosong sudah menjadi bagian dari kesehariannya.


Jika beruntung, dari berjualan seharian Pak Dede bisa membawa pulang sekitar Rp30.000–Rp50.000. Uang tersebut harus dibagi untuk membeli beras, pampers Bu Dedeh, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. “Bingung, uang yang didapat harus dibagi-bagi untuk keperluan di rumah sama buat beli keperluan istri,” ujar Pak Dede dengan suara bergetar. Ada hari ketika ia sudah berjalan jauh, tetapi tidak satu pun keranjang terjual. Pulang dengan tangan kosong berarti ada kebutuhan yang kembali harus ditunda.


Meski begitu, Pak Dede tidak meminta kehidupan mewah. Ia hanya ingin istrinya mendapatkan kesempatan untuk kembali berobat. “Sudah hampir 5 tahun istri saya berhenti di terapi karena sudah tidak ada lagi biaya. Selain itu, kondisi jarak yang jauh menjadi faktor penghalang buat berobat lagi,” katanya. Pak Dede pun masih berusaha tegar. “Kalau bapak mah, selagi masih sehat, masih kuat, nggak apa-apa jualan kayak gini juga, asal bisa beli beras sama keperluan istri biar bisa sehat lagi.” Kalimat sederhana itu menyimpan perjuangan seorang suami yang terus berjalan meski langkahnya tak lagi sekuat dahulu. Ketika ditanya tentang harapannya, mata Pak Dede mulai berkaca-kaca. “Bapak mah cuma pengen istri bisa sehat lagi, bisa punya modal biar bisa usaha yang lain dan nggak harus jualan keliling.” Pak Dede tidak sedang meminta kehidupan yang mewah. Ia hanya membutuhkan sedikit ruang untuk bernapas dan kesempatan untuk membawa istrinya kembali mendapatkan perawatan.


Jika hari ini kita bisa membantu, donasi yang terkumpul dapat menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan harian, membantu perawatan Bu Dedeh, membeli pampers dan obat-obatan, serta membuka harapan agar pengobatan yang telah lama terhenti dapat kembali dilanjutkan dan mereka memiliki usaha yang lebih layak. Jangan biarkan langkah panjang ini terus ditempuh sendirian. Sebab bagi kita, mungkin nominal yang disisihkan terasa kecil. Namun bagi keluarga ini, setiap rupiah bisa berarti beras untuk hari ini, pampers untuk istrinya, obat untuk bertahan, atau bahkan kesempatan untuk kembali berobat.

Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.
JADI#SirkelBaik