Pukul tujuh pagi, di usia 86 tahun, Abah Ara sudah bersiap duduk di tempatnya berjualan. Di hadapannya hanya korek gas dan alat cukur jenggot sederhana. Harga jualnya pun kecil—Rp5.000 untuk dua korek, Rp5.000 untuk satu alat cukur. Dari barang-barang itulah Abah menggantungkan hidupnya bersama sang istri.
Dulu, sebelum kakinya melemah, Abah berjualan dengan cara berkeliling. Namun sejak beberapa tahun terakhir, tubuhnya tak lagi kuat berjalan jauh. Kini ia hanya bisa duduk. Untuk sampai ke tempat jualannya saja, Abah harus naik ojek. Ongkos pulang-pergi Rp30.000. Sementara dalam sehari, dagangannya kadang hanya laku lima buah. Uang yang ia pegang paling banyak Rp20.000 kotor. Bahkan sering kali ia kebingungan, bagaimana membayar ojek untuk pulang—terpaksa berutang dulu.
Abah memiliki dua anak, namun keduanya sudah berkeluarga dan hidup terpisah. Ia tinggal berdua dengan istrinya, serta seorang cucu yang dititipkan. Untuk kebutuhan cucu, anaknya masih memberi uang mingguan. Namun untuk kebutuhan Abah dan istrinya sendiri, semua bergantung pada dagangan kecil itu.
Karena tidak memiliki modal, Abah pernah meminjam ke koperasi desa sebesar dua juta rupiah. Namun yang diterima hanya Rp1,7 juta. Cicilan per bulan Rp250.000. Baru empat bulan berjalan, dan Abah sudah kebingungan memikirkan sisa utangnya. Di usianya yang hampir sembilan dekade, pikiran tentang cicilan justru menjadi beban terbesar dalam hidupnya.
Ada hari-hari ketika Abah dan istrinya tak punya lauk. Mereka hanya menyeduh bumbu penyedap dengan air panas, lalu mencampurnya dengan nasi agar tetap bisa makan. Rumah mereka pun jauh dari kata layak. Saat hujan turun, atapnya bocor. Dapur masih menggunakan hawu—tungku dari batu bata dengan kayu bakar—karena belum mampu membeli kompor. Untuk mandi dan memasak, mereka tak memiliki sumur sendiri. Setiap bulan harus membeli air dari tetangga, dan jika air habis mendadak, mereka membeli air galon satu per satu.
Beberapa minggu lalu, di Januari 2026, Abah jatuh sakit selama dua minggu. Biaya pengobatan mencapai Rp400.000. Selama itu, tak ada pemasukan sama sekali. Usia yang semakin renta membuat tubuhnya mudah lelah. Bahkan ketika sholat berjamaah, Abah harus berdiri di paling ujung agar bisa berpegangan saat bangkit dari sujud.
Abah tidak bermimpi tinggi. Ia hanya ingin melunasi utangnya agar tidak lagi dihantui rasa cemas setiap bulan. Ia ingin membeli kompor agar istrinya tak perlu lagi memasak dengan kayu bakar. Ia ingin memperbaiki atap rumah yang bocor. Dan, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun bekerja, ia ingin beristirahat dengan tenang dan fokus pada kesehatannya.
Sobat Berdampak! Abah Ara di usia 86 tahun, seharusnya beristirahat dan menikmati hari tua. Tapi ia masih harus memikirkan ongkos ojek, cicilan koperasi, biaya air, dan makan sehari-hari.
Mari sebarkan campaign ini dan berdonasi untuk membantu Abah Ara. Bantuan donasi akan disalurkan untuk paket pangan, modal usaha serta bantuan lainnya.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

*Page ini merupakanbagian dari program dan campaign utama yang berjudul Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama
Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hallo, Sobat Berdampak!
Pak Heri merupakan seorang pedagang kopi dengan kondisi distonia dan epilepsi. Bantuan yang diberikan berupa santunan tunai.
Alhamdulillah kita telah melaksanakan program penyaluran Semua Berhak Nyaman untuk Pak Heri.
Kami mewakili Pak Heri dan keluarga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Sobat Berdampak atas donasi dan dukungan yang telah diberikan.
Alhamdulillah, bantuan sudah diterima dan disambut dengan rasa syukur serta bahagia oleh Pak Heri sekeluarga.
Terima kasih atas kebaikan yang telah dibagikan.
Salam hangat,
Ayo Kita Peduli