Tak banyak lansia yang bisa menikmati hidup di sisa usia mereka. Masih banyak lansia di luar sana yang harus berjuang, mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatan mereka demi sesuap nasi.
Salah satunya adalah Abah Suhana. Di usia 82 tahun, Abah Suhana masih berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Setiap hari, Abah berjalan kaki memikul dua kantong besar berisi tisu, menjajakan dagangannya dengan langkah yang pelan dan tubuh renta.
Satu bungkus tisu kecil dijual seharga Rp5.000, dan tisu ukuran sedang Rp8.000. Tapi tahukah Anda? Dari setiap tisu yang terjual, Abah hanya mengantongi keuntungan bersih Rp2.000 saja. Dalam sehari, penghasilan Abah tak lebih dari Rp10.000–20.000.
Di sisi lain, ada Abah Putra. Di usia senjanya, Abah Putra masih harus berkeliling dari pagi hingga sore demi menjual pencukur kumis seharga Rp5.000. Dalam sehari, ia hanya membawa pulang Rp30.000–60.000 untuk makan bersama istri dan anaknya.Namun kini, cobaan hidup datang bertubi-tubi.
Istri tercinta Abah mengalami gangguan jiwa akibat tekanan ekonomi yang berat. Sudah 4 kali dibawa ke RSJ, dan hingga hari ini, kondisinya belum stabil. Di rumah, Abah harus menjaga dengan sabar—bahkan menyembunyikan alat tajam agar istrinya tidak melukai diri.
Tak hanya itu, Abah juga mengidap katarak di mata kiri. Meski penglihatan kabur, ia tetap memaksa diri berjualan agar bisa bertahan hidup.
Ada juga Abah Odo. Di usianya yang hampir menginjak 90 tahun, Abah Odo (87 tahun) masih semangat untuk mencari nafkah demi bertahan hidup di tanah rantau. Saat ini beliau hidup sebatang kara di sebuah kontrakan yang terletak di kota Bandung.
Penghasilannya sebagai penjual kopi keliling tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan Abah Odo menunggak bayaran kontrakan selama berbulan-bulan. Beliau juga kerap merasakan kelaparan karena tak mampu membeli makan.
Dan masih banyak lansia di luar sana yang berjuang di jalanan keras, menyusuri jalanan dengan langkah tertatih demi bertahan hidup setiap harinya.
Sobat Berdampak, jangan biarkan para lansia yang membutuhkan uluran tangan kita hidup sengsara dan tidak bisa menikmati hari tua mereka banting tulang di jalanan demi sesuap nasi. Bersama Ayo Kita Peduli, mari beri uluran tangan untuk para lansia pejuang nafkah di luar sana dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

*Page ini merupakanbagian dari program dan campaign utama yang berjudul Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama