"Setiap hari, luka di tubuh Ramdan semakin memburuk." Kalimat ini bukan sekadar peringatan. Ini adalah kenyataan yang harus dihadapi Mak Engkar (59) setiap hari. Di usia senja, saat tubuh seharusnya mulai beristirahat, ia justru dipaksa berlari melawan waktu demi menyelamatkan anak semata wayangnya.

Enam bulan lalu, Ramdan (27) mengalami kecelakaan kerja hingga lumpuh total. Anak yang dulu menjadi tulang punggung keluarga kini hanya bisa terbaring. Di punggungnya terdapat luka besar yang terus membesar, dalam, dan menganga akibat terlalu lama berbaring tanpa perawatan medis yang memadai. Setiap kali Mak Engkar membersihkan lukanya, tubuh Ramdan bergetar hebat menahan perih. Pengobatan pun sempat terhenti karena biaya, sehingga risiko infeksi semakin besar.

Suami Mak Engkar telah lama meninggal. Kini ia menghadapi semuanya seorang diri. Mereka tinggal di gubuk bambu yang rapuh, berdinding bolong dan beratap bocor. Setiap pagi sebelum matahari terbit, Mak Engkar menyuapi dan merawat Ramdan, lalu berjalan berkeliling menjual jajanan titipan demi penghasilan Rp25.000–Rp40.000 per hari. Uang itu harus dibagi untuk makan sekaligus pengobatan anaknya. Dengan mata berkaca-kaca, Mak Engkar berkata, "Emak cuma pengen Ramdan sembuh, bisa seperti dulu lagi. Emak capek nggak apa-apa." Namun di balik ketegarannya, ada ketakutan yang terus menghantui. "Kalau suatu hari Emak sudah tak sanggup berjalan… siapa yang akan merawat Ramdan?"

Mak Engkar tidak meminta kehidupan mewah. Ia hanya ingin modal usaha agar bisa berjualan dari rumah sambil merawat Ramdan, dan rumah yang lebih layak agar mereka tak lagi dihantui bocornya atap saat hujan turun.

Insan Baik, mari bantu Mak Engkar dan Ramdan. Uluran tangan kita dapat menghadirkan pengobatan yang layak, usaha yang lebih aman, dan harapan baru bagi ibu dan anak yang sedang berjuang ini.