Usia senja seharusnya menjadi masa untuk beristirahat, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati hari-hari dengan tenang. Namun, berbeda dengan Emak Isop. Di usianya yang sudah lebih dari 70 tahun, beliau harus menjalani hidup penuh keterbatasan dan kesendirian.

Emak Isop tinggal di sebuah rumah sederhana, ditemani hewan-hewan kesayangannya beberapa kucing dan ayam. Karena tak punya kandang, ayam-ayam itu Emak simpan di dalam karung agar tetap aman. Rumah Emak jauh dari kata layak, namun inilah satu-satunya tempat yang bisa ia sebut sebagai rumah.
Untuk bertahan hidup, Emak Isop berjualan keripik keliling desa. Bukan keripik buatan sendiri, melainkan titipan orang lain. Setiap hari, Emak berjalan kaki puluhan kilometer, melewati jalan berbatu, tanjakan, dan turunan hanya untuk menjajakan dagangan tersebut. Meski usia sudah senja dan tubuhnya sering terasa lemah, Emak tetap memaksakan diri demi mendapatkan sedikit penghasilan.
Namun, perjuangan itu hanya menghasilkan Rp10.000 – Rp20.000 per hari. Uang yang tak sebanding dengan tenaga yang terkuras, bahkan tak cukup untuk kebutuhan harian, apalagi untuk biaya berobat.

Kini kondisi Emak semakin mengkhawatirkan. Tubuhnya mulai rapuh, dan beliau sering sakit-sakitan. Saat sakit, Emak tidak bisa pergi berdagang. Ia hanya berdiam di rumah, menahan lapar atau mengandalkan belas kasihan tetangga yang kadang mengirimkan makanan. Jika ada sedikit tenaga, Emak memasak sendiri dengan lauk seadanya sering kali hanya nasi dan garam.
Meski hidup dalam keterbatasan, Emak Isop tetap memiliki semangat yang luar biasa. Namun, kita tahu, perjuangan ini tak bisa Emak jalani sendiri selamanya. Beliau butuh kita, orang-orang baik, yang mau memberikan uluran tangan agar hidupnya sedikit lebih layak.

🙏 Jangan biarkan Emak berjuang sendirian di usia senjanya. Klik tombol Donasi sekarang, dan jadilah bagian dari kebaikan ini. Sekecil apa pun bantuanmu, sangat berarti untuk Emak Isop
