Di usia yang sudah menginjak 90 tahun, Mak Samini masih harus berjuang seorang diri untuk sekadar mengisi perut. Tubuhnya sudah renta, langkahnya tak lagi sekuat dulu, namun keadaan membuatnya tetap mencari cara agar bisa bertahan hidup. Setiap hari, Mak Samini mengumpulkan bekas-bekas nasi yang sudah tidak dimakan untuk kemudian dijemur. Bagi orang lain mungkin nasi tersebut sudah tak berarti, tapi bagi Mak Samini, itulah yang bisa menjadi makanan untuk mengganjal perutnya. "Hanya ini yang sekarang bisa Mbah lakukan, yang penting perut Mbah bisa terisi dengan tidak meminta-minta..." ucapnya sambil tersenyum.

Namun bahkan nasi yang sudah susah payah ia kumpulkan dan jemur pun terkadang tak sempat dimakannya. Nasi-nasi tersebut adakalanya habis dimakan ayam. Mak Samini hanya bisa tersenyum sambil membereskan kembali karung yang digunakannya untuk menjemur nasi. “Mungkin itu rezeki ayam, bukan rezeki Mbah...” katanya dengan penuh syukur. Di tengah kondisi yang begitu sulit, Mak Samini masih berusaha menerima apa pun yang terjadi tanpa banyak mengeluh.

Tak hanya mengandalkan nasi bekas, Mak Samini juga mengisi waktunya dengan memungut kepingan sampah dan barang-barang rongsokan yang berserakan di jalan. Hasilnya memang tidak seberapa, tetapi itulah ikhtiar yang masih mampu ia lakukan untuk mendapatkan sedikit uang demi kebutuhan sehari-hari. Mak Samini berusaha bertahan dengan tenaganya sendiri karena ia tidak ingin terus meminta-minta. Padahal, di usianya yang sudah 90 tahun, seharusnya ia tidak lagi dipaksa memikirkan bagaimana caranya mendapatkan sesuap nasi untuk hari ini.

Mak Samini tinggal di sebuah rumah kayu berukuran sekitar 2x3 meter yang terbuat dari kayu-kayu bekas. Rumah kecil itulah yang menjadi tempatnya berteduh dan menjalani sisa usia. Kondisinya sangat sederhana dan jauh dari kata layak, tetapi hanya tempat itulah yang ia miliki. Ketika sakit datang, Mak Samini pun hanya bisa menangis menahan rasa sakit seorang diri. Tak ada yang bisa segera membawanya berobat atau memastikan apakah hari itu ia sudah makan. Ia hanya bisa berharap dan terus berusaha melewati hari demi hari.

Sahabat kebaikan, mungkin hari ini kita masih bisa menikmati nasi hangat dengan lauk yang kita sukai. Kita bisa makan kapan pun ketika merasa lapar, sementara di luar sana ada Mak Samini yang harus menjemur nasi bekas hanya agar bisa mendapatkan sesuap makanan. Ia tidak meminta kehidupan mewah. Di usianya yang sudah senja, Mak Samini hanya ingin bisa makan dengan layak dan memenuhi kebutuhan sederhana untuk bertahan hidup. 🤲❤️ Yuk, klik “Donasi Sekarang” dan hadirkan sesuap nasi untuk Mak Samini hari ini.