“Badan emak sudah nggak kuat… tapi kalau emak berhenti, siapa yang jaga anak sama cucu emak?”
Kalimat lirih itu keluar dari Mak Tati (68), seorang nenek yang seharusnya menikmati masa tuanya dengan tenang. Namun kenyataannya, ia masih harus berjuang sendirian melawan kerasnya hidup. Dengan tubuh yang semakin renta dan penglihatan yang hampir hilang akibat katarak, Mak Tati tetap memaksakan diri bekerja setiap hari. Ia menjadi satu-satunya harapan bagi keluarganya: Elim (50), anaknya yang mengalami keterbatasan mental, dan Irma (8), cucu kecil yang masa depannya bergantung pada kasih sayang sang nenek.
Setiap pagi, Mak Tati berjalan tertatih menyusuri kampung. Dengan sapu lidi di tangan, ia berkeliling untuk berjualan. Langkahnya tak lagi kuat. Pandangannya buram. Bahkan untuk berjalan pun, ia harus dipapah oleh Elim—anak yang justru juga membutuhkan bantuan. Di bawah terik matahari dan hujan yang turun tanpa ampun, mereka tetap berjalan. Demi satu tujuan sederhana: agar bisa makan hari ini, dan agar Irma tetap bisa bersekolah. Namun penghasilan mereka sangat terbatas. Dalam sehari, Mak Tati hanya mendapatkan sekitar Rp20.000–Rp30.000. Jumlah yang jauh dari cukup, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar.