“Kalau Mak pulang tanpa uang… Abah makan apa hari ini?” 🥺
Kalimat itu terus terngiang di kepala Mak Titing (65), bahkan saat dagangannya hancur dilindas motor. Hari itu, belum ada satu pun sayur yang terjual. Dengan tangan gemetar dan mata yang penuh air, Mak tetap memunguti sayuran yang kotor dari jalanan. Bukan karena masih layak dijual, tapi karena itu satu-satunya harapan agar ia bisa membawa pulang sedikit uang… untuk suaminya yang sedang sakit di rumah.
Setiap hari, Mak berjalan kaki menjajakan sayur keliling. Dari pagi hingga sore, berharap ada yang membeli. Namun keuntungan yang didapat hanya Rp2.000 per bungkus. Jika beruntung, Mak membawa pulang Rp10.000. Tapi sering kali, Mak harus pulang dengan tangan kosong… sementara di rumah, Abah Amas (69) menunggu dengan tubuh lemah dan nafas yang tersengal menahan sakit.
Abah kini hanya bisa terbaring. Penyakit di jantung, paru-paru, dan lambungnya membuat kondisinya semakin memburuk. Tak ada tenaga untuk bangun, bahkan untuk sekadar duduk. Setiap tarikan nafasnya terasa berat, seolah berjuang antara bertahan atau menyerah.
Mereka tinggal di kontrakan kecil berukuran 3x4 meter. Di sanalah, Mak merawat Abah dengan segala keterbatasan. Tangis dan doa tak pernah putus, berharap ada jalan agar Abah bisa berobat dan mereka bisa tetap bertahan hidup.
Mak tidak meminta banyak. Ia hanya ingin punya modal usaha yang layak… agar bisa terus berjualan dengan lebih pasti, dan membawa suaminya mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.
Hari ini, kita masih punya pilihan untuk membantu.
Sedikit dari kita, bisa jadi harapan besar untuk Mak Titing dan Abah Amas. 🤲💛
1. Klik Donasi Sekarang
2. Masukkan Nominal Donasi
3. Pilih Metode Pembayaran
4. Dapatkan Laporan via Email
