Bagaimana rasanya jika di sisa usia senja, Anda harus memikul beban hidup yang bertubi-tubi seorang diri? Ujian berat inilah yang sedang dihadapi oleh Emak Tutin (56 tahun). Beliau dipaksa menjadi tulang punggung tunggal untuk menghidupi suaminya yang sekarat, sekaligus merawat cucu yatim-piatu dari pelukan orang tuanya, Ghafi (7 tahun).
Sejak bayi, Ghafi ditelantarkan oleh ibunya pasca-bercerai. Pilunya lagi, setahun lalu sang ayah memilih menikah lagi dan kini menghilang tanpa pernah menjenguk Ghafi. Ghafi tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, dan kondisi fisiknya pun sangat memprihatinkan. Kaki Ghafi bengkok dan kini mulai membengkak menyerupai tumor.
Tanpa penanganan medis, bengkak di kakinya kian memburuk. Tak jarang bocah kelas satu SD ini berteriak histeris di tengah malam karena tak kuat menahan rasa nyeri yang teramat sangat.
Beban di pundak Emak Tutin tidak berhenti sampai di situ. Di dalam rumah, sang suami (kakek Ghafi) hanya bisa terbaring lemas tak berdaya akibat digerogoti penyakit jantung dan liver yang kian kronis. Jika sedang tidak menemani emaknya berjualan, di usianya yang masih sangat belia, Ghafi-lah yang bertugas menyuapi dan menjaga kakeknya yang sakit.
Puncak kepedihan keluarga ini terjadi beberapa waktu lalu saat bencana melanda. Sebagian tanah di bawah rumah mereka longsor, membuat pondasi bangunan retak parah dan kini posisinya miring hampir roboh. Setiap kali hujan turun, malam-malam mereka dilewati dengan perasaan mencekam ketakutan kalau rumah mereka akan runtuh terbawa longsoran tanah.
Demi membelikan obat dan makanan, setiap hari Emak Tutin berjalan kaki menawarkan kain lap keliling pasar. Dari keringat yang diperasnya dari pagi hingga petang, Emak hanya mampu membawa pulang uang Rp15.000 hingga Rp25.000 saja.
Jika pasar sedang sepi, Emak sering kali pulang dengan tangan hampa. Akibatnya, Emak Tutin, Ghafi, dan kakeknya terpaksa harus berpuasa dan menahan perihnya rasa lapar karena tidak ada sebutir beras pun di rumah mereka.
Emak Tutin menyimpan harapan besar agar bisa membawa Ghafi dan suaminya berobat ke dokter spesialis, memperbaiki rumah mereka sebelum roboh total, serta memiliki modal usaha kecil-kecilan di rumah agar ia bisa memantau kondisi keluarganya dengan aman.
#OrangBaik, Ghafi adalah anak yang sangat baik dan berbakti, namun garis nasibnya tidak seberuntung anak-anak lain. Jangan biarkan masa kecilnya habis dalam kepungan rasa sakit, kelaparan, dan ketakutan akan kehilangan tempat tinggal.
Kami dari Yayasan Jejak Binar Harapan mengajak Anda semua untuk bergotong-royong, merajut kembali harapan hidup yang sempat patah bagi keluarga Emak Tutin dan Ghafi.
Bantu bagikan juga halaman galang dana ini agar semakin banyak binar kebaikan yang tercipta untuk kesembuhan Ghafi dan kakeknya. Terima kasih!
