Setiap pagi, Mak Uci berangkat ke ladang sayur milik tetangganya untuk bekerja. Hingga menjelang maghrib, beliau tetap bertahan di tengah lelah dan nyeri tubuh yang semakin sering dirasakan. Semua itu dilakukan demi satu alasan: cucunya tercinta, Ebom.

Sudah hampir 30 tahun, Mak Uci merawat Ebom yang mengidap Down Syndrome sejak lahir. Kondisi Ebom membuatnya membutuhkan bantuan penuh untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Mulai dari makan, berpindah tempat, hingga kebutuhan dasar lainnya, semua masih diurus langsung oleh Mak Uci seorang diri.

Di sela bekerja, Mak Uci kerap pulang untuk mengecek kondisi Ebom. Hatinya selalu dipenuhi rasa khawatir setiap kali harus meninggalkan cucunya sendirian di rumah. “Kalau Emak gak ada, nanti siapa yang urus Ebom? Siapa yang kasih makan, mandiin, jagain dia…” ujar Mak Uci lirih, sambil menahan air mata.

Usia yang semakin senja membuat perjuangan Mak Uci terasa semakin berat. Penglihatannya mulai kabur, pinggangnya sering nyeri, dan tenaga tak lagi sekuat dulu. Namun rasa lelah itu terus ia abaikan demi memastikan Ebom tetap bisa makan dan bertahan hidup.

Insan Baik, di balik tubuh renta Mak Uci ada tanggung jawab besar yang terus ia pikul setiap hari. Mari bantu ringankan perjuangan Mak Uci dan Ebom dengan membantu memenuhi kebutuhan sandang dan pangan mereka.
