Lawan Perih! Mak Yuyum Tumbuk Batu Demi Cucu Hidrosefalus Di usia 55 tahun, Mak Yuyum seharusnya mulai menikmati masa tua dengan tenang. Namun setiap hari, tangan rentanya masih harus memegang palu dan menumbuk batu keras demi menyambung nyawa dua cucunya, terutama Zahira (5 tahun) yang kini hanya bisa terbaring tak berdaya akibat hidrosefalus.

Dulu, sempat ada secercah harapan bagi keluarga ini. Setelah rutin terapi, Zahira sempat bisa berbicara, bergerak, bahkan menunjukkan perkembangan yang baik. Namun, mimpi itu hancur seketika saat kejang hebat menyerang tubuh mungilnya. Seluruh tubuhnya berubah menjadi kaku, dan kemampuan yang perlahan ia kuasai lenyap begitu saja.

Kini, yang paling menyayat hati Mak Yuyum adalah tatapan mata Zahira yang kosong dan tak lagi memberikan respons. Air mata Mak tak pernah kering jika mulai memikirkan nasib cucunya di masa depan. "Mak cuma takut... kalau Zahira makin besar terus umur Mak nggak panjang, siapa yang bakal ngurusin Zahira nanti? Seandainya dia sehat, mungkin sekarang udah bisa lari-lari sama temannya," ucap Mak Yuyum

Cobaan ini terasa semakin berat sejak ayah Zahira pergi meninggalkan mereka begitu saja. Sang ibu pun tak tinggal diam. Ia mendedikasikan dirinya sebagai relawan ambulans, memilih tetap membantu warga yang membutuhkan pertolongan di sela-sela waktunya merawat Zahira, meski tak ada penghasilan tetap. Sementara itu, untuk makan sehari-hari dan menebus obat antikejang, Mak Yuyum harus mengandalkan palu dan batu. Sistem kerjanya sungguh memilukan. Mak harus membeli sekarung batu utuh seharga Rp25.000 terlebih dahulu. Setelah seharian tangannya menahan perih menumbuk batu itu hingga hancur, barulah ia bisa menjualnya kembali seharga Rp55.000. Artinya, dari keringat dan lelah seharian penuh, Mak Yuyum hanya mengantongi keuntungan bersih Rp30.000. Uang itulah yang dipaksa cukup untuk membeli susu dan bubur Zahira, ongkos sekolah cucu pertamanya, hingga kebutuhan makan sekeluarga.
Tak heran jika uang 30 ribu itu sering kali habis tak tersisa, sementara kebutuhan mereka masih banyak yang belum terpenuhi. Meski begitu, tak terlintas sedikit pun di benak Mak Yuyum untuk menyerah. Harapannya hanya satu; melihat Zahira terus mendapatkan nutrisi dan obat yang layak agar kondisinya tidak semakin memburuk.

Sobat kebaikan, yuk ringankan beban di pundak Mak Yuyum. Tangan rentanya tak lagi sekuat dulu untuk terus menumbuk batu setiap hari. Bantuan dari kita akan sangat berarti untuk memastikan Zahira bisa terus berobat dan keluarga kecil ini bisa bernapas sedikit lebih lega. Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga Mak Yuyum. Selain itu, akan digunakan untuk implementasi program dan para penerima manfaat lainnya di bawah naungan Yayasan Jelajah Kebaikan Bumi.