"Setiap detik yang diwakafkan untuk merawat masjid adalah bukti cinta paling murni. Tanpa pamrih manusia, hanya mengharap keridaan Sang Pencipta."
Di sebuah gubuk kayu berukuran 3x4 meter yang lapuk dimakan usia, Mbah Sumar menghabiskan hari-harinya dalam kesendirian. Tak ada sanak keluarga, tak ada tempat bersandar. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, beliau sudah terbangun menahan dingin yang menembus celah dinding bambu tempat tinggalnya.

Dengan langkah yang tak lagi tegap dan kaki yang sering meringis kesakitan akibat sakit menahun, Mbah Sumar tetap memikul wadah kerupuknya. Beliau menyusuri jalanan desa, menawarkan kerupuk saban hari demi menyambung hidup. Penghasilannya tak tentu—rata-rata hanya Rp20.000. Uang sekecil itu harus cukup untuk membeli beras dan menyambung napas esok hari.
Namun, di balik himpitan hidup yang begitu berat, ada ketulusan luar biasa dari sosok renta ini. Setiap selesai Subuh dan menjelang sore, Mbah Sumar selalu berada di masjid desa. Dengan langkah pelan, beliau menyapu halaman, membersihkan sajadah, dan memastikan rumah Allah tetap bersih dan nyaman bagi para jamaah. Semua itu beliau lakukan dengan penuh keikhlasan, tanpa pernah mengharapkan imbalan atau mau digaji sepeser pun.
"Selagi kaki ini masih bisa melangkah, saya cuma ingin tabungan akhirat," ucapnya lirih suatu hari.
Kini, di usianya yang makin senja, fisik Mbah Sumar tak lagi sekuat dulu. Kaki yang sakit membuat langkahnya makin berat untuk berjualan keliling. Gubuk kecilnya pun makin tak layak huni saat hujan dan angin kencang datang.
Mari kita bersama-sama ulurkan tangan untuk Mbah Sumar. Sedikit kepedulian dari kita akan sangat berarti untuk membantu biaya pengobatan kakinya, memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, serta memberikan tempat tinggal yang lebih layak bagi sang marbot yang mulia ini.
Bantu Mbah Sumar hidup lebih layak dengan berdonasi hari ini.
